Museum Angkut Kaya Koleksi

“Ini replika atau kendaraan beneran, Pak?” tanya Bayu kepada seorang petugas yang ditanggapi dengan tatapan heran, “Maksud saya apakah bisa dinyalakan mesinnya?”

“Semuanya ini beneran kok mas, kalau mau ke sini saja sebelum jam sepuluh, setiap pagi kerjaan saya adalah manasin mesin kendaraan yang ada di sini, terutama sepeda motor,” ucap bapak itu dengan bangga.

Memang tidak main-main. Koleksi barang di Museum Angkut ini mulai dari For Model-T hingga Ferrari dan Batmobile. Tentu saja ada keheranan di dalam pikiran kami berdua dari mana sajakah pengelola museum mendapatkan semua barang-barang unik tersebut.

Ajakan dari bapak-bapak penjaga museum itu entah basa-basa atau serius, yang jelas kami tidak punya waktu untuk datang ke sini lagi pukul sepuluh pagi. Tiketnya mahal pula. Bayu dan saya menyempatkan diri untuk berjalan-jalan mengitari ruang pameran utama museum ini, yang mana menyimpan koleksi-koleksi terbaiknya.

Museum yang semula saya sangka hanya satu gedung ini ternyata masih punya delapan zona lain di belakang sana yang masing-masing dirancang sewujud kota tematik. Di antaranya Zona Inggris, Zona Eropa Barat, Zona Sunda Kelapa, dan sebagainya, yang masing-masing menyimpan saran transportasi dari setiap era.

Zona Hollywood sedikit banyak merupakan arena favorit saya, lantaran mobil-mobil Transformers hingga Batmobile dipajang di tempat ini. Nampaknya anak-anak juga berpikiran sama.

Setidaknya membutuhkan waktu dua jam bagi kami untuk menelusuri setiap sudut Museum Angkut. Boleh dibilang museum ini punya penataan dan kualitas artefak satu level di atas museum-museum pada umumnya di Indonesia. Meskipun demikian tiketnya masih dirasa terlampau mahal untuk standar wisatawan Indonesia.

Apabila pengunjung merasa lapar, maka tidak perlu khawatir, sebab di sebelah gedung utama museum ini terdapat pasar apung yang menjual kuliner khas Indonesia.