Sekejap di Balla Lompoa

Sebenarnya siang itu hujan. Namun Rudy dan saya santai saja dan nekat bermotor dari Makassar ke Sungguminasa. Mulai dari berdebat gara-gara GPS yang kurang akurat hingga tersasar menuju arah yang berlawanan, akhirnya kami tiba juga di situs bekas Kerajaan Gowa.

Museum Balla Lompoa namanya. Dalam Bahasa Makassar, balla lompoa berarti rumah kebesaran. Dinamakan demikian karena sejatinya museum ini adalah rekonstruksi dari istana Kerajaan Gowa hasil buah karya Raja Gowa, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu, awal abad ke-20.

Seakan hujan tidak pungkas untuk menghukum kenekatan kami berdua, Museum Balla Lompoa pada siang itu tutup lantaran sedang menjadi renovasi. Jadilah kami berdua menyempatkan diri untuk sekedar berfoto-foto di pelataran luarnya saja.

Dari luar, bangunan museum ini mengadopsi arsitektur standar rumah adat Bugis dengan ornamen berupa tangga setinggi dua setengah meter ke teras utama. Seluruh bangunan disusun dengan kayu ulin dan dipagari oleh tembok bata pada bagian terluar pekarangannya.

Museum Balla Lompoa sendiri berfungsi sebagai emplasemen artefak Kerajaan Gowa. Rangkum benda kaya sejarah dipajang di dalam etalase-etalase yang terletak pada ruang-ruang museum.

“Ya, mau bagaimana lagi? Kita jauh-jauh datang ke sini tetapi ternyata tutup,” jawab saya dengan nada sedikit dongkol karena kunjungan saya ke Makassar kali ini hanyalah sebatas transit. Rudy hanya tertawa renyah mungkin karena juga tidak tahu mau merespon apa.

Sewajarnya pada siang itu kami mengubah rencana. Dari penjalajahan museum berubah menjadi penjelajahan kuliner di Sungguminasa. Menunya? Tentu saja coto Makassar.