Bener Meriah Benar Meriah?

Minibus yang setengah catnya terkelupas itu berhenti di hadapan saya. Pak Sopir melongokkan kepala ke arah saya di tepi jalanan Gayo yang siang itu sepi seakan-akan ditinggal kabur separuh penduduknya, “Ke Bener Meriah?”

Bener Meriah. Nama yang terkesan ceria itu gagal mengemban kesan pertama yang positif lantaran beberapa hari sebelumnya media setempat ramai mengabarkan berita tentang sebuah minibus yang dilempar granat. Suasana menjadi serba canggung, orang lebih banyak diam apalagi dengan orang asing seperti saya. Selama perjalanan ini hanya Pak Sopir yang banyak bicara, sementara semua orang di minibus seakan mendengarkan monolog.

Nama Bener Meriah sejatinya dipetik dari Bahasa Gayo yang masing-masing bermakna ‘tanah luas yang bahagia’ dan sedemikian tebing-tebing batu yang membentengi tanah ini lengkap dengan kucuran kericik air terjunnya memang mengesankan kebahagiaan itu. Saya duduk diam sementara mobil terus melaju setengah oleng melibas aspal yang kadang mulus kadang berlubang, tebing demi tebing yang elok mewarnai perjalanan ke arah Bireuen.

Teruntuk orang luar, Bener Meriah mencakup sebuah kabupaten baru di Aceh, hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Tengah pada tahun 2003 silam. Namun bagi masyarakat lokal, sebutan Bener Meriah sejatinya hanya mencakup Simpang Tiga Redelong dan sekitarnya. Jarang ada yang menyebut kawasan lain seperti Timang Gajah, Lampahan, atau Pante Raya dengan sebutan Bener Meriah meskipun secara administratif ketiga kawasan tersebut masih masuk ke kabupaten ini.

Satu demi satu penumpang diturunkan di tepi jalan. Tinggallah saya bersama Pak Sopir yang sebentar lagi akan mencapai titik terminasi di Simpang Tiga Redelong, yang artinya sudah setengah jalan sebelum melanjutkan perjalanan saya menuju Bireuen.

“Kamu mau berfoto di situ?” tanya Pak Sopir ketika melihat saya bawa kamera, “Kalau mau kamu turun saya di tepi tebing situ biar saya yang fotokan kamu.”

Saya hanya mengiyakan dan terbahak.