Mengingat Lagi Bom Bali

Seratus lima puluh kilogram nitroamino eksplosif meledak membahana di seberang jalan ini empat belas tahun silam. Paddy’s Pub yang kala itu meriah mendadak terhenyak, luluh lantah diterjang ledakan masif yang menewaskan lebih dari dua ratus jiwa tersebut. Dunia tertegun. Bali diguncang peristiwa terorisme terbesar di dalam sejarah bangsa Indonesia, menyelipkan sebuah lembar hitam kelam.

Butuh bertahun-tahun bagi Bali untuk bangkit. Paddy’s Pub direlokasi ke selatan dan kini dikenal dengan sebutan Paddy’s Reloaded. Sementara di lokasi lamanya kini berdiri sebuah monumen berdinding putih bertatahkan nama-nama korban tewas dalam kejadian tersebut.

Malam itu Jalan Legian nampak ramai, tidak terbekas sedikit pun bahwa dahulu pernah terjadi peristiwa memilukan di tempat ini, kecuali keberadaan sang monumen. Segalanya kembali normal. Saya berdiri di depan monumen, menatap jauh ke arah keramaian. Sementara Dito asyik berfoto-foto seraya menikmati malam yang temaram.

“Besok kita masih punya waktu seharian untuk berkeliaran,” sahut saya mengingatkan, “Pada malam hari kita harus sudah mengejar kapal menuju Lombok agar tidak kehilangan terlalu banyak waktu.”