Terdampar di Tondano

“Tondano? Ini Tondano. Kamu mau turun di mana?” tanya si sopir angkot kebingungan. Wajar apabila dia kebingungan sebab saya sendiri juga bingung mau turun di mana. Pokoknya saya hanya ingin melihat Danau Tondano, terserah mau turun di mana.

Akhirnya diturunkannyalah saya di sebuah taman bermain yang nampak agak kurang terawat. Hanya nampak seorang bapak tua dengan kailnya, yang sudah barang tentu bukan mau main ayunan. Sementara di seberang sana air tenang Danau Tondano menghampar luas hingga kaki bukit.

Danau Tondano adalah nama yang selalu saya ingat. Bukan apa-apa, namun karena danau ini sempat keluar di soal try-out ujian akhir SD. Waktu itu namanya masih EBTANAS, Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional. Sejak saat itu, saya selalu ingat dengan nama danau terluas di Sulawesi Utara ini dan berjanji suatu saat akan mengunjunginya.

Namun tentunya itu tidak dapat dijadikan alasan yang masuk akal. Apalagi ketika nyonya muda pemilik rumah makan itu bertanya ke saya ihwal kedatangan saya di Remboken, Tondano.

“Kenapa kamu ke Tondano?” tanyanya sambil mengelap piring yang tidak kotor.

“Ceritanya panjang dan dramatis, Bu. Lima belas tahun yang lalu…”

Tentu tidak. Untuk mencegah perpanjangan masalah, saya menjawab bahwa saya cuma ingin jalan-jalan dan melihat-lihat danau ini karena saya baru saja dari Tomohon. Sepiring nasi dengan lauk ikan nike dihidangkan ke meja saya. Saya makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Danau Tondano memang cantik. Seorang nelayan dengan perahu kayu nampak sibuk menjaring ikan mengabaikan gerimis yang turun. Entah berapa lama saya duduk di tepi danau memandangi kelakuan nelayan itu, yang nampaknya berhasil mendapatkan ikan besar-besar. Matahari sudah agak tinggi ketika Randy, seorang teman di Manado, mengajak bertemu.

Segera saya meninggalkan Danau Tondano, mencari kendaraan kembali ke Manado.