Vihara di Atap Gunung Pasi

Mendung menggelayut menggiring senja. Lantai pelataran vihara ini masih basah tatkala Rizal dan saya berjingkat pelan menyusuri pelatarannya. Dingin. Air bekas hujan menggenangi lantai marbel Vihara Surga Neraka, menggores langkah-langkah licin tercetak di permukaannya.

Yin dan Yang. Surga dan Neraka. Vihara ini terletak di Gunung Pasi, atap urban Singkawang. Pada dasarnya, Singkawang atau San Keu Jong bermakna kota yang diapit oleh laut dan bukit. Sangat mungkin, Gunung Pasi adalah salah satu bukit yang disiratkan dari nama tersebut.

“Bukan,” ungkap saya meyakinkan Rizal tentang vihara ini, “Saya yakin bukan Buddha, tetapi vihara Taoisme. Dewa-dewa yang ada di tempat ini adalah milik umat Tao.”

Rizal hanya mengangguk. Meskipun merupakan penduduk asli Singkawang, saya bisa memaklumi latar belakangnya sebagai Muslim Melayu tentu kurang begitu paham dengan seluk beluk agama Tiongkok. Tentu saja konfirmasi atas pertanyaan seperti itu akan lebih cocok dipertanyakan kepada pengelola dari Yayasan Dharma Suci yang memang mengelola vihara bersejarah ini. Mulai dari sisi perawatan bangunan hingga acara kebaktian rutin yang diadakan di dalamnya.

Kompleks Vihara Surga Neraka cukup luas. Total terdapat tujuh vihara yang berdiam dalam suatu area. Sebelum tahun 1960, terdapat delapan vihara. Namun belakangan dua vihara digabungkan entah karena alasan apa.

Untuk mencapai vihara ini, kita harus melewati jalan terjaln menanjak dari Singkawang. Jalanan kecil beraspal seadanya memang mampu dilintasi oleh mobil, namun ketika dua mobil bersisipan maka salah satunya harus mengalah terlebih dahulu.

“Di seberang sana itu Bengkayang,” Rizal menunjuk ke arah kejauhan sembari berdiri menghadap pagar vihara. Dari atas sini seantero Singkawang terpapar jelas.