Mempawah Punya Ikan Sungai

Connie melongokkan kepalanya ke sisi Sungai Mempawah, sementara saya sibuk berkonsentrasi untuk menjaga keseimbangan dari sepeda motor yang terpental-pental di jembatan beralas kayu yang menghubungkan dua kampung kecil ini. Setiap putaran roda sepeda motor menghasilkan derak-derak memekakkan telinga yang membuat perasaan was-was.

Kami memang tidak punya banyak rencana ke Mempawah, jadi jangan heran apabila sisa perjalanan ini menjadi seperti penjelajahan kampung demi kampung. Namun satu hal yang pasti kunjungan ke Mempawah ini tidak boleh melewatkan momentum untuk makan siang dengan kuliner khas dari daerah tepian sungai ini.

Berhentilah kami di ujung sebuah tambak yang punya dangau beralaskan kayu. Di atasnya terdapat beberapa meja kecil yang terlihat baru saja selesai dibersihkan, besar kemungkinan ini adalah rumah makan di atas kapal meskipun tidak tertulis secara eksplisit.

“Ada makanan?” tanya saya dengan pilihan kata yang mungkin terkesan nyusrug.

“Ikan ada,” jawab ibu yang berjaga di sana tidak kalah sinisnya seraya menunjuk ke barisan tambak-tambak kayu yang terhampar seperti buku matematika di atas Sungai Mempawah, “Bisa pilih ikannya, nanti kita ambilin dari tambak sana, ada ikan-ikan sungai yang besar-besar.”

Alhasil siang itu Connie dan saya menyantap salah satu ikan sungai dari Mempawah yang saya sendiri juga tidak tahu apa namanya. Yang pasti di siang hari yang panas seperti ini, kami hanya perlu rehat sejenak sembari menunggu matahari agak jinak sebelum melanjutkan lagi perjalanan lebih jauh.

Sementara di atas sana derak-derak kencang dari jembatan kayu yang baru saja kami lintasi terdengar membahana ke seluruh kampung setiap kali ada sepeda motor lewat di atasnya.