Melepas Sauh di Ternate

Pagi merekah di sebalik kungkung Gamalama. Langit yang gelap pun perlahan mulai terlihat agak kebiruan menyorotkan semburat apik dari seberang lautan. Ada sedikit perasaan lega akan isyarat bahwa sebentar lagi kapal ini akan bersandar di Ternate. Semalam suntuk saya duduk di tangga besi lantaran tidak kebagian tempat di dalam kapal, mencoba berdamai dengan malam sembari meringkuk dihantam angin lautan.

Gunung Gamalama adalah sumber berkah dan musibah bagi Ternate. Lereng-lerengnya yang subur adalah lahan cengkeh terbaik di nusantara, sumber kekayaan dan kemakmuran Ternate selama berabad-abad. Sementara letup-letup laharnya adalah sumber kehancuran dan musibah yang terjadi berulang-ulang, terakhir pada tahun 2012 silam.

Entah mengapa ketika pagi datang, kapal ini justru terasa berjalan semakin lambat. Apabila saya tidak salah hitung, kecepatannya mungkin setara dengan naik sepeda dari Manado ke Ternate. Tetapi apalah pilihan saya, seorang pejalan dengan kantong cekak seperti ini memang mau tidak mau harus menerima akar dan melupakan rotan.

Seorang ibu nampak sibuk membereskan barang-barangnya, disusul dengan beberapa penumpang yang melakukan hal serupa. Nampaknya mereka paham bahwa kita akan segera sampai sebentar lagi. Kabin kapal yang tadinya penuh sesak, semakin terasa penuh karena tiba-tiba semua orang menjadi sibuk sendiri. Sementara saya hanya mengamati tingkah polah para pelayar dari Manado ini dari tangga di luar dek.

Sebagian besar di antara mereka adalah para pekerja, yang entah karena alasan apa kembali ke kampungnya. Manado adalah kota nomor dua di Indonesia bagian timur, setelah Makassar, yang menjadi pusat para pencari penghidupan. Tidak mengherankan.

Kapal Bunda Maria ini perlahan-lahan merapat di dermaga. Ratusan orang nampak sudah menunggui kedatangan kapal kami, mulai dari tukang ojek, porter, pedagang asongan, dan tentunya seorang kawan baru, Awhy. Saya tidak mengenal dia sebelumnya selain dari obrolan Facebook. Kedatangan saya ke Ternate sudah barang tentu menjadi pertemuan kita yang pertama.

Awhy menghubungi ponsel saya. Sudah ditunggu di depan katanya. Dari atas dek kapal saya melongokkan kepala, melihat seorang pemuda kurus berkulit hitam berambut keriting yang melambaikan tangannya. Penjelajahan Ternate akan segera dimulai.