Sriwijaya Dikira Nama Raja

Orang Tionghoa dulu menyebutnya San Fo Shi, episentrum peradaban Melayu dua belas abad silam. Suka tidak suka, boleh tidak boleh, mau tidak mau, Sumatera Selatan adalah salah satu provinsi di Indonesia dengan sejarah peradaban yang paling panjang.

Namun gegap gempita Sriwijaya adalah konsep yang relatif anyar. Perihal ihwal imperium talasokratis ini mulai diketahui tidak jauh ke masa lalu. Bahkan seratus tahun silam, Johan Hendrik Caspar Kern, seorang pakar epigrafi dari Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen mengisyaratkan nama Sriwijaya yang tercantum pada prasasti Kotakapur sebagai nama seorang raja.

Tentu saja Kern keliru. Lima tahun kemudian, George Coedes adalah orang yang meralat dan menyatakan bahwa Sriwijaya bukanlah nama raja melainkan nama kerajaan. Menarik. Teruntuk satu kerajaan sebesar Sriwijaya, tenggelam dari catatan sejarah ternyata bukan perkara yang mustahil.

Semenjak itu barulah bukti-bukti peninggalan Sriwijaya mulai dikeduk dan dicari. Hingga kemudian hari ditetapkanlah Palembang sebagai pusat kerajaan bahari raksasa tersebut. Belakangan hal ini pun masih jadi topik perdebatan pada kalangan sejarawan, dikarenakan landasan pernyataan Sriwijaya berpusat di Palembang masih terlampau lemah, ada beberapa wilayah lain yang juga memungkinkan menjadi pusat kerajaan maritim itu, sebut saja Jambi dan Chaiya.

Sekarang Sriwijaya sudah menjadi ikon Palembang. Di kota pesisir Sungai Musi ini pulalah berdiri sebuah museum yang menyimpan serangkai artefak-artefak peninggalan kerajaan tersebut. Kunjungan saya ke tempat ini sekaligus memungkas perjalanan ke Palembang yang menjadi salah satu bagian dari rangkaian ekspedisi panjang lintas Sumatera.

“Museumnya bagus,” ucap Alya kepada saya, “Berikutnya kita kembali saja ke tempat kakak tinggal, biar bisa kejar kereta ke Bandar Lampung malam ini.”