Berklothok ke Tanjung Puting

Yang namanya klothok itu ternyata besar. Entah harus berapa kali lagi Lysa mengulang-ulang realisasi tersebut di hadapan saya. Tidak salah. Saya sendiri juga semula mengira klothok itu sejenis perahu kayu lapuk dengan fasilitas seadanya.

Klothok yang kami tumpangi meluncur perlahan-lahan membelah Sungai Kumai yang lebar, sesewaktu pantulan gelombang dari dinding-dinding sungai membuat kapal kayu ini berayun-ayun. Saya duduk di dek paling depan menatap lepas ke hamparan sungai, sementara di langit sana, matahari bersinar cerah dikelilingi arak-arakan mega seadanya.

“Cuaca di sini suka berubah-ubah,” terang Pak Syam, “Nanti kalau tiba-tiba hujan turun, kita tutup saja terpalnya. Yang penting kasur tidak basah.”

Kapal ini sebenarnya cukup keren. Ada tiga pasang kasur empuk berhadap-hadapan di masing-masing sisi kapal, cocok untuk tiduran sambil membaca novel menghabiskan siang. Perkara suasananya, jangan tanya, sunyi dengan bunyi-bunyian lirih dari hutan di sepanjang jalur sungai.

Barangkali Lysa dan Nina adalah yang paling berisik di antara kami semua. Zul hanya terdiam melamun memandangi pepohonan di sekitar sungai. Sementara Sufi bersantai tidur-tiduranan di kasur membaca literatur klasik goresan Gabriel Possenti Sindhunata, Anak Bajang Menggiring Angin. Saya sendiri duduk di dek menikmati angin.

Tiga hari dua malam kami akan menyusur Sungai Kumai dan Sungai Sekonyer di atas klothok, bercumbu berdekatan dengan para penghuni rimba di kanan kiri sungai. Bagi saya, ini bukan sekedar mengasingkan diri dari hiruk pikuk ibukota, namun juga menjadi visitasi perdana saya ke taman nasional yang selalu digadang-gadang sebagai petilasan orang utan terbesar di planet ini.

Apapun yang akan saya lihat, dengar, dan rasakan dalam tiga hari ke depan, saya sudah tidak sabar untuk menjalaninya. Selamat datang di Taman Nasional Tanjung Puting!