Telusur Kota Tua Ampenan

Lombok dikenal oleh karena alamnya, bukan karena kota tuanya. Ketika bilang Senggigi atau Rinjani, sudah barang tentu orang-orang akan mahfum tentang apa yang saya bicarakan. Namun tidak demikian halnya dengan Ampenan. Kota tua yang merupakan cikal bakal Kota Mataram ini tidak lebih dari satu strip barisan rumah-rumah tua di sepanjang jalan tepi pantai.

Amperan kaya akan sejarah. Rumah-rumah bergaya art deco terserak begitu saja dalam satu barisan yang rapi, sebagian besar masih sangat dipertahankan keaslian bentuknya dengan campuran arsitektur Tiongkok berbahan dasar kayu dan gaya bangunan Belanda. Demikianlah ekonomi dan kota di pulau ini lahir dari tangan-tangan para pedagang Tionghoa yang mendirikan pemukiman di pesisir pantai ini.

Kota tua di Pulau Lombok ini hanya punya lima jalan sempit, yaitu Yos Sudarso, Saleng Sungkar, Pabean, Koperasi, dan Niaga. Setiap jalan diberi nama masing-masing sesuai dengan nama bangunan yang berfungsi di tempat itu pada masa lampau. Pada sejumlah sudut kecil di kompleks kota tua ini juga masih terlihat rumah-rumah warga keturunan Arab yang dahulu ikut berbaur di sini.

Sekilas saja saya melintasi Kota Tua Ampenan di atas sepeda motor. Satu dua perhentian di depan toko-toko tua berdinding kayu memang tidak cukup untuk mengkaptur nilai sejarah tempat ini, sayangnya hari itu saya tidak punya banyak waktu.