Langkah Kraton Mempawah

Kedatangan Opu Daeng Menambun ke Kalimantan sejatinya atas permohonan Sultan Muhammad Zainuddin dari Kesultanan Tanjungpura di dalam sebuah misi merebut kembali kekuasaan yang dicerabut oleh saudaranya. Berangkatlah sang putra Bugis yang kala itu sedang membantu menumpas pemberontakan di Kesultanan Melayu-Johor menuju ke Kesultanan Tanjungpura.

Atas jasanya menumpas pemberontakan, Opu Daeng Menambun dinikahkan dengan putri Sultan Tanjungpura sekaligus diberi gelar Pangeran Mas Suna Negara. Untuk seterusnya tinggallah beliau di tanah Kalimantan Barat hingga sang sultan wafat dan digantikan oleh putranya. Menjelang tahun 1740, kekuasaan Mempawah yang berada di bawah Tanjungpura diserahkan kepada Opu Daeng Menambun. Di sinilah Kesultanan Mempawah pun bermula menjadi sebuah kesultanan yang menginduk kepada kesultanan yang lebih besar.

Mempawah tumbuh menjadi kawasan yang ramai dikunjungi oleh kaum pendatang. Perdagangan yang intensif dengan Melayu dan Tiongkok perlahan membuat daerah ini menjadi makmur hingga kolonialis Belanda datang tiga puluh tahun kemudian. Di bawah bujukan Belanda inilah Kesultanan Qadriyah di Pontianak tergoda untuk meluaskan wilayahnya ke utara, memangkas sebagian dari sisi selatan Kesultanan Mempawah.

Sengketa wilayah tersebut menjadi awal dari sebuah pertempuran antara dua kesultanan yang bertetangga ini. Kesultanan Qadriyah dibantu Belanda menyerbu Kesultanan Mempawah yang dibantu Kesultanan Singkawang. Perang tidak berlangsung lama dengan kemenangan dari pihak Kesultanan Qadriyah.

Untuk menancapkan kekuasaan, Belanda mengangkat Syarif Kasim sebagai penguasa Mempawah dengan gelar Panembahan Mempawah. Jadilah kini kesultanan muda itu menjadi negara boneka di bawah Kesultanan Qadriyah.

Berakhirnya kekuasaan Belanda di nusantara justru membuat suasana memburuk di Mempawah. Kedatangan Jepang menorehkan tinta merah di dalam sejarah Kesultanan Mempawah. Sultan Muhammad Taufiq Accamuddin ditahan oleh Jepang hingga meninggal dunia dalam tahanan dan hingga kini tidak diketahui di mana kuburannya.

Beberapa keluarga sultan dibawa ke Mandor untuk kemudian dieksekusi di sana. Kesultanan Mempawah sendiri punya kraton yang pernah hingga saat ini berdiri anggun di hadapan saya. Namun sejarah dari kesultanan ini tidaklah seanggun bangunan kratonnya lantaran ia penuh dengan pertumpahan darah dan catatan kegagalan untuk tumbuh menjadi kesultanan besar yang benar-benar independen.