Kuwah Itek Khas Bireuen

Orang sini menyebutnya sie itek, secara harafiah artinya kuah itik. Kuliner khas Bireuen ini punya kuah kental dengan rempah-rempah yang rancak memadu rasa pedas manis yang tiada duanya. Belum makan pun baunya sudah semerbak memenuhi udara restoran yang tidak terlampau ramai pada malam itu.

Hampir semua keude bu, alias warung nasi, menyediakan makanan khas Bireuen ini. Warna kuahnya bervariasi, entah merah atau putih. Yang putih lebih mirip opor sementara yang merah kekuningan terlihat lebih menantang untuk disantap. Masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah masak kurma lantaran warnanya kuahnya agak cokelat, walaupun sejatinya tidak ada kurma yang dilibatkan di dalam pembuatannya.

Saya menuntaskan santapan malam ini lebih cepat daripada Yudi dan kawan-kawan, kemudian bangkit dari tempat duduk dan membayar makanan yang kami santap malam itu. Yudi nampak terkejut, “Waduh! Jangan kamu yang bayar! Biar saya saja!”

Mendengar protesnya, saya cuma nyengir, “Saya kan yang jalan-jalan ke sini, masa saya jalan-jalan tapi kalian yang bayar? Sudah lumrah kalau saya yang bayar semua ini.”

“Ya sudah, kalau begitu saya ganti traktir kamu pisang adabi,” jawabnya sambil tertawa keras-keras. Artinya kami masih melanjutkan satu sesi makan-makan lagi pada malam ini sebelum keberangkatan bus ke selatan.

Jadilah malam itu kami nongkrong lagi di tengah kota Bireuen. Di badan jalan terdapat sebarisan kedai-kedai kopi yang menjual pisang adabi khas Aceh. Tenda-tenda yang menutupinya dibangun sedemikian pendek sehingga untuk berjalan di bawahnya pun kami harus merunduk-runduk serendah mungkin.

Di salah satu sudutnya saya memilih sebuah kursi plastik dan melewatkan malam dengan ngobrol ngalor ngidul. Sebagai kota basis kekuatan Gerakan Aceh Merdeka, diskusi malam-malam di keramaian publik seperti ini seakan-akan menjadi simbolisme akan usainya sebuah sengketa yang berkepanjangan dengan republik induk. Sepuluh tahun silam, kenyamanan seperti ini boleh dibilang nyaris mustahil untuk dinikmati.