Jalan-Jalan Mabuk Kepahiang

Jalan menanjak berbelok curam ke kanan, kemudian setir dibanting ke arah kiri, mengikuti kontur jalan raya yang mendadak menurun, kemudian lari ke kanan dan menanjak lagi. Barangkali dari sinilah istilah ‘mabuk kepayang’ itu berasal. Nama kampung ini adalah Kepahiang, penduduk lokal lebih suka melafalkannya dengan cepat menjadi terdengar seperti kepayang.

Seperti yang saya duga-duga, perjalanan melintasi kabupaten ini dari Kota Bengkulu memang membuat pusing tujuh puluh keliling lantaran alur jalan yang tidak beraturan membelah Bukit Barisan Selatan. Beruntung sebagian besar kondisi jalan sudah teraspal dengan baik meskipun pada sebgaian wilayah aspalnya terkesan sudah mau lepas.

“Nanti kita makan dulu ya di Kepahiang,” seru Pak Sopir yang hanya saya tanggapi dengan anggukan sementara seluruh penumpang di mobil hanya berdiam diri, “Sekalian buat yang mau sholat di masjid.”

Di himpitan tebing dan jurang, kami disambut oleh plang besar ucapan selamat datang di Kabupaten Kepahiang. Namun transisi dari Bengkulu Tengah ke Kepahiang sama sekali tidak terasa lantaran pemandangan dari tadi masih sama, hutan lebat dengan tetumbuhan paku berukuran besar-besar yang merambat di sisi tebing. Entah mengapa paku-pakuan di sini berukuran jauh lebih besar daripada yang acap saya temui di Jawa, sama seperti bunganya, Rafflesia arnoldii, yang juga luar biasa besar.

Kepahiang adalah kota kecil yang teduh. Di jantung kota ini terdapat sebuah taman dengan Patung Soekarno-Hatta di tengah-tengahnya yang mana sekitarnya diapit oleh pertokoan dan pasar tradisional. Tidak jauh dari kota ini, terlihat perbukitan yang apik tertutup perkebunan teh Kabawetan.

Kepahiang sendiri punya ciri khas, yaitu kubah-kubah putih yang banyak menghiasi gedung-gedung perkantoran di kabupaten ini. Namun ketika saya bertanya kepada sopir tentang apa makna dan sejarah dari kubah-kubah tersebut, beliau tidak bisa menjawabnya. Yang menarik pencarian di internet pun menghasilkan informasi sangat minim.

Kami berhenti di depan sebuah masjid. Saya berjalan keluar menyusuri jalan protokol Kepahiang. Di kanan jalan terdapat sebuah rumah adat khas kawasan Bukit Barisan Selatan, yang terbagi di provinsi Bengkulu bagian timur dan Sumatera Selatan bagian barat. Semakin mendekati ke arah Pagaralam, rumah-rumah seperti ini akan semakin sering saya temui.