Mendaki ke Atap Monpera

“Dulu waktu masih sekolah saya suka main ke atas,” ucap Alya sembari memandu saya menyusuri papar Sungai Musi. Di atas yang di maksud Alya adalah atap Monumen Monpera, sebuah monumen besar di sisi kerunyaman Sungai Musi yang apabila dilihat dari salah satu sisinya berwujud mirip huruf X raksasa.

Monumen Perjuangan Rakyat, atau lebih dikenal sebagai Monpera, adalah sebuah monumen merangkap museum. Mirip seperti Monumen Nasional, kita juga mampu mendaki hingga puncaknya. Tersedia tangga untuk mencapai bagian atasnya yang mana dari sana kita dapat melihat ke luasan Palembang, termasuk Jembatan Ampera yang ikonik.

Pergolakan pasca-proklamasi adalah tema utama museum dalam monumen ini. Bagian dalamnya, tentu saja, tidak luas. Dilengkapi dengan sebuah tangga spiral yang berhenti di setiap lantainya, masing-masing lantai memaparkan koleksi rekam perjalanan bagaimana rakyat Palembang bertempur mempertahankan kemerdekaan, utamanya dalam perang lima hari di tahun 1947.

Palembang bukanlah daerah yang mudah ditaklukkan. Pantang menyerah mereka berjuang menghadapi tentara Belanda yang ingin kembali menguasai nusantara, meskipun dihujani tembakan armada artileri, tank, dan kapal perang. Pertempuran baru berhenti setelah lima hari lewat sebuah gencatan senjata, usai pasukan pejuang berhasil meremukkan beberapa unit kapal Belanda dan pusat radio di Talang Betutu.

Pembangunan monumen ini memakan waktu hampir empat puluh tahun gara-gara tidak mendapatkan tanggapan dari pemerintah. Barulah pada tahun 1988, permohonan para legiun veteran terkabul dengan berdirinya Monumen Perjuangan Rakyat yang megah ini, diresmikan secara langsung oleh Menko Kesra Alamsyah Ratu Prawiranegara.

Inspirasi desainnya bukan huruf X, melainkan bunga melati yang sedang mekar. Perlambang kesucian hati para pejuang. Sedangkan sembilan jalur menuju monumen ini melambangkan kebersamaan rakyat Palembang yang dikenal dengan istilah Batang Hari Sembilan. Lalu apa lagi yang unik dari monumen ini?

“Tinggi tiang utamanya 17 meter, dengan 8 lantai, dan 45 jalur,” pungkas si bapak penjaga.