Arboretum Nyaru Menteng

“Sudahlah, saya antar kamu ke sana lima puluh ribu saja,” jawab si tukang ojek sambil menyerahkan helm kusamnya ke tangan saya. Saya tidak punya pilihan sebab mau naik apa lagi ke sana.

Dan demikianlah kami meluncur kurang lebih tiga puluh menit melibas aspal mulus Jalan Rusia. Disebut demikian karena jalan raya yang menghubungkan antara Palangkaraya dan Tangkiling tersebut dibangun oleh pemerintah Rusia pada era Orde Lama. Hebatnya, setelah lima puluh tahun berlalu, jalan raya yang dibangun di atas lahan gambut ini tetap bertahan dalam kondisi prima.

Tidak berapa lama kemudian kami pun tiba di Arboretum Nyaru Menteng, pusat penangkaran orangutan yang terselip di bibir Danau Tahai.

Thank you for coming! Hope you can contribute!” pesan Richard Zimmerman, pendiri Borneo Orangutan Survival Foundation kepada saya melalui pesan singkat siang itu. Saya memang belum pernah bertatap muka dengan Richard, namun dia selalu merekomendasikan saya untuk mampir ke sini andai berkunjung ke Kalimantan Tengah.

Di atas luasan enam puluh hektar, pusat penangkaran Nyaru Menteng didirikan pada medio 1980-an oleh Kementerian Kehutanan. Sementara untuk operasional sehari-hari, ia didukung oleh lembaga-lembaga seperti Borneo Orangutan Survival Foundation. Hingga saat ini terdapat sekitar tujuh ratus orangutan di seantero tempat ini.

Tujuh ratus adalah angka yang terlampau besar. Nyaru Menteng pada awalnya tidak dimaksudkan untuk menampung orangutan sebanyak itu. Saat saya memasuki sudut-sudutnya, terlihat keramaian orangutan bergelantungan pada kubah raksasa. Mungkin terlalu penuh. Itulah mengapa tiap tahun, Nyaru Menteng melepaskan kembali orangutan-orangutan yang telah dewasa ke alam liar.

Seorang penjaga mempersilakan saya untuk memasuki ruangan multimedia. Di sana pengunjung dapat menonton dokumenter perihal pelestarian orangutan. Sementara di luar sana, hujan mulai turun.