Mengakhiri Suatu Perjalanan

Bahkan teruntuk sebuah rute penuh narasi seperti Sulawesi, perjalanan tetap punya ujung. Melesaknya sang mentari perlahan-lahan di balik bukit menandai hari terakhir perjalanan panjang saya. Esok saya harus sudah kembali ke Jakarta untuk menjalani rutinitas. Permasalahan post travel blues biarlah menjadi prerogatif saya seorang.

Penjelajahan yang dimulai dari Mamuju dua minggu yang lalu akhirnya purna di Parepare Banyak kesan yang masih membekas di dalam perjalanan yang sesungguhnya relatif singkat.

Dua minggu lalu saya menapakkan kaki di Mamuju. Dengan bantuan sekenanya dari Rizky, saya menyisir luasan kotanya. Perjalanan disambung ke Majene, bersama Onie saya menjelajah relik-relik di tiap-tiap sudut Majene. Marathon berlanjut di Polewali, ketika sekelompok petualang liar Sulawesi Barat, Putra dan kawan-kawannya, memandu saya mengeksplorasi air terjun Rannuang meskipun sedang berpuasa.

Langkah berikutnya mengantar saya kepada eksotisme Mamasa. Dipandu oleh Silas dan Serlina, saya menyelami kehidupan masyarakat Mamasa dan keindahan alamnya. Kota demi kota saya lalui, hingga tibalah saya di kota Parepare beberapa hari yang lalu, ujung dari sebuah perjalanan.

Secara simbolis tenggelamnya matahari mengesankan ujung dari perjalanan saya. Ibaratnya pertunjukan wayang, maka momen seperti ini adalah waktunya saya tancep kayon. Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah membantu saya di dalam perjalanan singkat ini.

Sampai jumpa lagi di lain waktu, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan!