Numpang Sebentar di Pesalat

Primata pemalu itu menatap kami dari ketinggian. Bekantan. Klothok yang kami tumpangi pun mesinnya sudah merepet, kemudian mati. Perlahan-lahan kapal kayu itu pun disandarkan pada salah satu dermaga senyap di punggungan Sungai Sekonyer. Matahari sudah mengambang rendah di langit barat sementara udara dingin pun sesekali berhembus.

“Hati-hati kalau berjalan,” kata Pak Donny kepada kami bertiga, “Kalian bisa masuk ke hutan, tapi jangan lama-lama. Soalnya sebentar lagi hari sudah gelap.”

Dan demikianlah saya bertiga, bersama Sufi dan Zul, berjalan menyusuri jalan setapak memasuki hutan tropis Kalimantan yang lebat dan lembab. Jalan setapak yang sesekali sudah dialasi oleh potongan kayu itu menghubungkan dermaga dengan pondokan yang berdiri di tengah hutan. Kata mereka sih di ujung jalanan berlumpur ini ada sebuah pondok yang digunakan sebagai pusat penelitian.

Meskipun Tanjung Puting sepintas memang terlihat aman, tidak demikian seharusnya. Hutan rimbun ini merupakan habitat natural para predator buas, selayaknya buaya muara dan macan tutul. Tidak heran apabila berjalan seorang diri di tengah kegelapan bisa mengundang masalah.

Cahaya di langit mulai terlihat redup, saya memanggil Sufi dan Zul yang sedang asyik memotret barisan tumbuh-tumbuhan untuk bergegas kembali ke dermaga. Tidak berapa lama kemudian kami pun tiba di dermaga sementara Pak Donny nampak sedang asyik membersihkan kapal kayunya.

Malam ini kami akan bermalam di sini, dermaga Pesalat. Inilah dermaga yang konon sungainya didiami oleh kawanan buaya, termasuk spesies buaya berahang panjang, senyulong.