Suasana Tidak Enak di Raha

Sekitar lima-enam lusin manusia berdiri di ambang dermaga. Menunggu kapal dari Kendari ini bersandar di dindingnya. Inilah Raha, kota utama Muna, pulau sekaligus kabupaten di Sulawesi Tenggara. Lokasinya yang terletak tepat di antara Kendari dan Bau-Bau membuat wilayah ini menjadi pelabuhan transit. Arus orang dan barang berseliweran di Selat Tioro, dari Kendari ke Bau-Bau, singgah di pulau ini setiap hari.

Rudy dan saya berjuang keras untuk turun, berebutan dengan lusinan yang berusaha untuk naik. Ratusan orang saling dorong di pintu kapal yang penuh sesak layaknya sekaleng sarden. Beruntung kami berhasil lolos meskipun membawa ransel yang besar-besar. Selamat datang di Raha!

“Suasana sekarang sedang tidak enak,” kata Hajar, anak muda yang mengojekkan sepeda motornya, “Baru beberapa hari ada ribut-ribut di sini, warga desa kami ada dibunuh. Kami jadi penuh curiga.”

Cerita yang terlambat. Sebab saat ini kami sudah kepalang basah setengah jalan untuk menuju ke Danau Napabale, atraksi kardinal dari Pulau Muna. Usut punya usut, Raha memang rawan konflik. Perseteruan masalah Pilkada pun tidak jarang meluas menjadi tawuran antar kampung. Andai kami tahu lebih awal barangkali urung sudah niat kami untuk berkunjung ke tempat ini.

“Berapa lama ke Nampabale?” tanya saya mengalihkan topik pembicaraan.

“Lima belas menit lagi sampai Napabale. Eh, Nampabale.” jawab Hajar.

“Oh iya, maksud saya Napabale,” sahut saya mengoreksi.

“Tidak. Saya rasa lebih bagus namanya Nampabale saja. Saya suka namanya.”

Layaknya komedi situasional di atas jok sepeda motor, hari itu secara tidak sengaja namun de facto saya menjadi pemberi nama baru bagi danau itu, namanya Danau Nampabale.

Sepeda motor terguncang-guncang menembus jalanan pedesaan yang baru separo beraspal. Sementara Hajar terus nyerocos di perjalanan, berdongeng tentang festival tahunan di Pulau Muna yang melibatkan tarung kuda. Terdengar menarik. Bangsa Muna memang dikenal sebagai penikmat duel equestrian, yang acapkali brutal dan berdarah-darah.

Sesaat kemudian sepeda motor berbelok di tikungan. Kemudian berhenti.

“Ya, kita sudah sampai,” sambut Hajar, “Ini Danau Nampabale!”