Perjuangan Kembali ke Soe

“Setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat selalu ada oto yang turun,” terang Pak Mateos Anin sembari merapatkan jaketnya. Beliau bergegas menuju ke padang rumput untuk memberi makan kerbau sementara saya harus cepat-cepat berpamitan dengan beliau lantaran dikejar waktu untuk segera mencapai Soe siang ini.

Demikianlah Desa Fatumnasi masih terisolasi. Masyarakat selalu mempunyai opsi untuk menyewa ojek turun, namun hal itu berarti memaksa diri untuk berhadapan dengan jalur curam dan terjal yang tersusun atas campuran bebatuan keras dan tanah merah. Pada musim hujan seperti ini ongkos ojek bisa menjadi berlipat-lipat lantaran tingkat kesulitan yang tinggi untuk sekedar mencapai Desa Kapan di bawah sana.

Saya beruntung. Hari ini terdapat sebuah oto yang turun. Setidaknya saya hanya perlu menunggui kendaraan tersebut di bawah sebuah pohon beringin kecil yang terletak di simpang Desa Fatumnasi. Tidak lama kemudian kendaraan yang ditunggu-tunggu pun lewat.

Yang disebut dengan oto sejatinya adalah sebuah truk barang. Truk ini mengangkut karung-karung pupuk dan hasil-hasil bumi di bak belakangnya. Namun lazimnya badan truk yang tersisa setengah akan diisi oleh para penumpang yang memang berniat turun dari Desa Fatumnasi menuju ke Desa Kapan.

Perjalanannya sudah barang tentu tidak karuan. Truk berbobot puluhan ton ini harus berjibaku dengan jalan raya berbatu yang bisa saja longsor sewaktu-waktu. Namun saya tidak punya banyak pilihan pada pagi itu. Saya memilih untuk menikmati perjalanan yang kasar itu untuk bercengkerama dengan salah seorang perempuan muda yang baru saya kenal di bak truk. Apa boleh buat.