Feeding di Tanjung Harapan

Pak Donny bertelanjang kaki. Jalannya cepat sekali. Sementara kami berdelapan berjalan mengikutinya, setengah berlari, menerobos setapak hutan tropis di Tanjung Harapan. Beruntung matahari belum terlalu tinggi hingga kami masih bisa merasakan desir-desir sejuk angin hutan tanpa paparan matahari.

“Hati-hati kalau melangkah, banyak semut api yang gigitannya panas!” seru Pak Donny memperingatkan bocah-bocah Jakarta ini, sementara dia sendiri tidak memakai alas kaki.

Tidak seberapa jauh kami melintasi sealiran sungai kecil, airnya mengalir muram. Hitam bukan lantaran kotor namun karena tanah gambut di dasarnya. Mbak Eko pun berjongkok di tepi sungai dan meminum airnya. Supaya nanti bisa kembali lagi ke tempat ini, kilahnya.

Saya juga minum. Bukan karena ingin kembali lagi, tetapi karena saya haus.

Kami datang terlambat. Ketika kami tiba di lokasi feeding, segerombolan orangutan nampak sudah selesai menikmati hidangan siangnya. Sekitar setengah lusin primata berambut merah duduk diam di sandaran pohon sambil mengais-ais sisa-sisa panganan yang masih bisa ditandaskan.

“Nanti pas di spot berikutnya kita datang lebih awal,” kata Pak Donny menjanjikan, “Pokoknya jangan terlambat lagi, biar kita bisa melihat proses pemberian pakan ini dari awal.”

Orang utan yang berada di Taman Nasional Tanjung Puting boleh dibilang semi-liar. Mereka dibiarkan berkeliaran di alam liar, namun sesekali para petugas taman nasional akan meninggalkan buah-buahan di tempat tertentu, sehingga orang utan yang terpanggil dapat menikmatinya. Bagi kami, ini sudah menjadi sambutan yang cukup. Saatnya bergegas menuju ke lokasi berikutnya.