Terbang Menembus Jayawijaya

Terbang rendah menuju Wamena adalah sebuah kengerian tersendiri. Pesawat yang kami tumpangi harus meliuk-liuk melewati sela-sela Pegunungan Jayawijaya yang sejauh mata memandang hanya berselimutkan hutan lebat. Ada sebuah celah yang dikenal oleh para pilot sebagai “The Gate”, yaitu pasase masuk Wamena yang berada di tengah-tengah dua gunung. Apabila kawasan tersebut tertutup kabut, maka pesawat kecil harus membatalkan pendaratan di Wamena dan memutar balik ke Jayapura.

Puncak tertinggi yang ada di seputaran Wamena adalah Puncak Trikora yang berketinggian 4.750 meter di atas permukaan air laut, artinya nyaris seribu meter lebih tinggi daripada titik pucuk Gunung Rinjani. Selebihnya adalah puncak-puncak pegunungan yang nyaris semuanya berada di ketinggian lebih dari empat ribu meter.

Mengambang rendah di atas Pegunungan Jayawijaya mengingatkan saya dengan penerbangan di baris Pegunungan Everest di Nepal, gunung-gunung yang terasa begitu dekat dengan badan pesawat mendesirkan kengerian tersendiri. Dahulu pesawat yang menerbangi rute ke Wamena hanyalah pesawat-pesawat kecil, namun seiring dengan ekspansi bandara, pesawat berbadan sedang milik Trigana Air pun memonopoli rute ini. Sekarang sudah tidak lagi, mulai dari Express Air, Susi Air, hingga Wings Air pun berebut penumpang.

Dengan pesawat berbadan sedang, kengerian penerbangan bisa sedikit berkurang lantaran ketinggian terbang pesawat pun relatif jauh di atas paparan Pegunungan Jayawijaya. Meskipun demikian gulung-gulung awan tebal yang memayungi pegunungan ini masih kerap menjadi halangan untuk mendaratkan pesawat.

Pilot menyuarakan pesan bahwa pesawat sedang meninggalkan ketinggian jelajah normal, ini artinya Wamena sudah dekat di bawah sana. Pesawat yang saya tumpangi perlahan-lahan menurunkan ketinggian, menembus awan tebal, dan terhamparlah Lembah Baliem yang permai dengan permukaannya yang menghijau rata.

“Sebentar lagi sampai,” kekeh bapak tua yang duduk di sebelah saya, “Sekarang Wamena punya bandara baru yang bagus, kamu nanti bisa lihat kalau tidak percaya.”