Es Krim Legendaris Toko Oen

Memasuki Toko Oen, nuansa tempo doeloe memang langsung terasa. Meja-meja dan kursi-kursi rotan berkaki rendah tersebar di setiap sudut restoran seakan membawa para pengunjungnya ke medio empat puluhan. Hanya saja bedanya para pengunjung yang dahulu mayoritas berasal dari kalangan sosialita kini mayoritas adalah wisatawan.

Toko Oen Ice Cream Palace Patissier dibuka pada tahun 1930, dalam waktu singkat restoran es krim ini menjadi sangat populer di kalangan juragan Belanda. Menariknya, pendiri dan pemilik restoran ini bukanlah orang Belanda melainkan orang Tionghoa bernama Liem Gien Nio. Nama Toko Oen sendiri diambil dari nama suaminya, Oen Tjok Hok.

Unit pertama dari Toko Oen dibuka di Yogyakarta pada tahun 1922. Berikutnya cabang-cabang Toko Oen yang lain ikut bermunculan di Jakarta, Semarang, dan Malang. Namun seiring dengan perkembangan zaman, Toko Oen di Malang menjadi yang paling ramai dan terkenal. Sementara Toko Oen di Jakarta dan Yogyakarta nasibnya lebih apes lagi, mereka tutup.

Selain menjual es krim, restoran yang usianya hampir satu abad ini juga menjual berbagai macam steak dan penganan ringan. Namun karena pada hari itu kami tidak dalam mood untuk makan besar, jadilah es krim menjadi satu-satunya menu yang kami pesan.

Demikianlah Toko Oen menjadi titik berkumpul kami, satu tim pendaki sebelas orang yang akan menaklukkan Semeru keesokan hari. Kesebelasan pendaki ini berasal dari empat kota berbeda, Jakarta, Bogor, Bandung, dan Batam, yang menariknya mayoritas belum saling mengenal satu sama lain di luar dunia maya.

Perjumpaan di Toko Oen menjadi awal pertemuan dan perkenalan kami. Selanjutnya kami harus membiasakan diri satu sama lain untuk bekerja sama dalam satu tim. Karena perjalanan baru saja dimulai. Selebihnya biarlah saya menikmati dulu banana split ini.