Hujan gerimis mendera seluruh wilayah Manado satu hari usai Natal. Bukan jadi masalah lantaran mayoritas warga Manado baru saja melewatkan malam panjang untuk pesta Natal, sangat besar kemungkinan mereka pagi ini masih tidur. Namun untuk saya, sarapan pagi adalah entitas
Sulawesi
Ditampung di Kantor TVRI
Entah sudah berapa lama saya tidak menonton TVRI. Satu-satunya hubungan antara saya dan TVRI adalah ketika mereka berbaik hati untuk menampung saya di kantor Manado. Stasiun pusat TVRI Sulawesi Utara menjadi peneduhan selama dua malam selama berkeliaran di luasan wilayah
Pesta Makan di Malam Natal
Tiga pan pizza digelar, kemudian kami makan seperti orang udik. Sepanjang boulevard Manado pada malam Natal itu begitu riuh, penuh dengan pengunjung mall penikmat belanja. Jangankan mencari ruang untuk berdelapan, untuk sepasangan pun susah bukan main. Jadi boleh dibilang kami
Yesus Memberkati Indonesia
“Tuhan mengasihi Indonesia torang samua basudara,” sekuranglebihnya demikian tulisan yang tersemat di depan kompleks perumahan elit Citraland Manado. Di gerbangnya, nampak sebuah patung Yesus Kristus setinggi puluhan meter menaungkan kedua tangannya seakan-akan sedang menumpahkan berkah kepada orang yang lewat. Monumen
Bersua ke Vihara Buddhayana
“Silakan masuk, tapi dilarang naik macan ya,” kata seorang bapak yang sedang asyik menyapu di halaman vihara. Kata sambutan yang kurang standar dilihat dari sudut pandang kultural manapun itu terus terang membuat saya bertanya-tanya. Pertama, apakah di tempat ini ada
Menjangkau Puncak Mahawu
Mendaki Puncak Mahawu ibarat berjalan di mall. Alias gampang. Bagaimana tidak, hingga sedikit ratus meter sebelum puncak sudah diaspal sehingga kendaraan bermotor dapat dengan mudah menjangkaunya. Untuk mendaki ke atas hanya butuh lima belas menit melintasi setapak berbatu yang setengah
Lokon yang Terus Meletus
Enam hari saya berada di Manado, saya hanya sempat mandi tiga kali. Sementara Gunung Lokon sudah meletus lima kali. Saya berada di Sulawesi Utara berbarengan dengan momen tingginya aktivitas Gunung Lokon. Sedari beberapa hari ini, gunung berapi yang menaungi Tomohon
Saat Teduh di Gua Gelap
“Ini bukan teduh, tapi suram!” protes saya kepada Haidir ketika kami memasuki gua gelap gulita di Bukit Doa Tomohon. Di dalam gua kecil inilah biasanya umat Nasrani yang mengadakan acara ibadah akan menyepikan diri untuk berdoa. Pada ruang tengah gua
Kapel di Bukit Doa Mahawu
“Aduh, kamu berani sekali sendirian dari Jakarta. Aduh, hati-hati di jalan ya,” di balik suara lantang melengking Bu Magdalena, saya melihat sepasang matanya menatap saya kasihan. Bu Magdalena bukan perkecualian. Seperti umumnya orang tua Indonesia, solo traveling sudah dianggap setara
Menyisir Bukit Doa Tomohon
Kabut mengambang rendah di tinggian Tomohon. Beberapa saat kemudian saya terpaksa harus membuka kaca helm demi melihat jalanan dengan lebih jelas. Sementara kendaraan-kendaraan bermunculan dari balik kabut di depan seakan-akan baru saja keluar dari dimensi lain. Tujuan kami pada hari









