Dibasuh Air Terjun Pineleng

Kuyuplah kami di naungan hempas-hempas air. Air terjun menjulang di atas kepala menghenyak juta-juta percik air tepat ke wajah, sementara saya berlindung dari sebalik jaket. Agaknya susah membidik air terjun ini tanpa membuat kamera di genggaman saya ini basah.

Uwais mencoba meneriakkan sesuatu dari seberang, namun saya tidak sanggup mendengarnya lantaran gemuruh air terjun seakan sudah memenuhi setiap frekuensi yang mampu didengarkan manusia. Akhirnya Uwais harus mengalah, berjalan mendekat, dan mengulurkan tangannya, “Sini kau kasih kameramu, biar aku yang fotokan.”

Masyarakat sebiasanya menyebut air terjun cantik ini dengan nama Air Terjun Desa Kali. Di balik popularitasnya, untuk mencapai curug ini tak semudah yang saya bayangkan. Alih-alih mendapati tempat wisata yang terawat, saya justru menemukan jalan setapak dari bongkah-bongkah batu pecah yang diselimuti hemparan lumut tebal. Licin sekali tentu saja.

Entah mengapa. Barangkali tempat ini terlampau sedikit menerima pengunjung dan lambat laun mulai ditinggalkan, ataukah dirasa kurang memberikan dampak ekonomis teruntuk masyarakat sekitar. Yang jelas perjalanan ke tempat ini memang terasa seperti menjelajah laluan yang telah lama ditinggalkan, termasuk di antaranya toilet publik berlumut setengah runtuh seakan-akan pernah dibom karpet semasa Perang Dunia.

“Baru setengah menit kamu foto saya di atas sini tapi saya sudah seperti orang mandi,” kelakar saya kepada Uwais seraya mengambil kembali kamera dari tangannya, “Sayang sekali tempat ini seperti terlupakan, padahal potensinya cukup bagus.”

Agak lama Uwais dan saya mencoba menyusuri sudut-sudut curug manis ini. Namun semakin ke sana sepertinya semakin beresiko untuk dijelajahi. Alhasil, kami berdua pun memutuskan untuk berjalan kembali pulang. Suatu saat nanti saya pasti akan kembali ke sini. Besarlah harapan saya ketika kembali nanti saya melihat penataan yang jauh lebih baik. Semoga saja.