Nuansa Suram Anak Krakatau

Monster ini kelam. Monster ini suram, angkuh, dan mengintimidasi.

Monster ini mengambang rendah di hadapan saya.

Gunung Krakatau tidak selaiknya gunung-gunung lain yang pernah saya lihat. Warnanya tidak biru anggun dari kejauhan seakan mengundang para pelintas untuk mendakinya. Gunung Krakatau berwarna hitam pekat bahkan dari kejauhan pun gunung ini seakan mengirimkan sinyal untuk kami agar tidak mendekat.

Seisi perahu sempat terdiam sesaat ketika melihat gunung kecil ini muncul dari balik cakrawala. Sebaris awan tipis nampak menaungi tepian lerengnya yang menancap langsung ke lautan dalam. Puncak gunung ini diselimuti asap kelabu tipis memberikan sedikit warna terang dari puncaknya yang hitam legam.

Krakatau tenar bukan tanpa alasan. Letusan maha-dahsyat yang terjadi pada tahun 1883 mengirimkan ratusan metrik ton batuan ke angkasa dan menggerakkan tsunami masih di pantai barat Jawa dan pantai selatan Sumatera, menewaskan empat puluh ribu jiwa. Saking kencangnya letusan kala itu, dentumnya terdengar hingga sejauh India dan Australia. Tidak butuh waktu lama teruntuk Sang Krakatau untuk memperoleh status legendaris di dalam catatan historia dunia.

Adalah Edvard Munch, pelukis asal Norwegia, yang masyhur dengan lukisan bertajuk The Scream yang mengabadikan horor letusan Gunung Krakatau di dalam gambar. Langit Eropa yang mendadak berwarna merah darah dan masyarakat yang panik sesaat setelah gunung berapi di Selat Sunda itu meletus. Ya. Letusannya terasa hingga ke Eropa.

Perahu motor ini masih menderu-deru, dipacu dengan kecepatan tertingginya mendekati Gunung Krakatau yang berdiri angkuh di depan sana. Saya maju ke dek kapal untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih jelas. Yang jelas, pagi ini saya akan berkenalan dengan Sang Monster.