Anak-Anak Pulau Sebesi

“Kakak dari mana? Mau ke Krakatau? Ada bawa Chiki atau tidak? Ada bawa permen?” tanya segerombolan anak-anak itu ketika saya berjalan seorang diri menyusuri garis pantai yang sunyi.

Pulau Sebesi hanya punya tiga dusun, atau mungkin empat, dengan kehidupan yang serba kalem jauh dari kata menggebu-gebu seperti yang biasa saya rasakan di Jawa. Demikian pula dengan anak mudanya. Jauh gadget dari genggaman mereka, yang ada justru lebih banyak kail dan jaring untuk menangkap ikan.

Saya merogoh kantong untuk mencari permen. Namun sayangnya hari itu saya tidak membawa apapun. Jadilah saya duduk bersama mereka dan membagikan beberapa cerita, sembari mengajak mereka melihat-lihat gambar yang ada di kamera. Dari situlah saya mendengarkan cerita perihal bagaimana mereka menjalani kehidupan serba tenang di pulau ini.

Tidak hanya Sekolah Dasar, di Pulau Sebesi ini juga ada masing-masing satu Sekolah Menengah Pertama dan satu Sekolah Menengah Kejuruan yang punya spesialisasi di bidang kelautan, entah di sebelah mananya. Meskipun terkesan seadanya, seluruh anak-anak di Pulau Sebesi telah mengenyam pendidikan formal.

Secara administratif Pulau Sebesi dipimpin oleh seorang kepala desa yang disebut jaro. Jaro ini membawahi tiga dusun yang kesemuanya berada di pulau kecil ini. Dalam kesehariannya, sang kepala desa dibantu oleh beberapa perangkat desa yang menjalankan pemerintahan. Tidak ada konsep RT atau RW di pulau ini.

“Kalau mau melihat matahari terbenam harus dari balik pulau ini,” celetuk Ilham, salah seorang anak yang menemani saya sore itu, “Di belakang sana ada daerah namanya Gubukseng, kakak harus ke sana.”