Bamboo Rafting ala Loksado

Satu-satunya bambu yang pernah saya naiki hanyalah dipan di teras rumah. Belum pernah terbayangkan bagi saya sebelumnya apabila kemarin saya harus menaiki alas dipan menyusuri sungai di pedalaman Kalimantan. Dengan hanya bermodal batang-batang bambu yang jumlahnya satu lusin, bapak tersebut mengikatnya menjadi satu dan melepasnya pelan-pelan ke tengah jeram.

Sungai itu tenang sekali, namun kecipak airnya yang melipir di bibir kapal jadi-jadian itu membuat saya was-was juga. Saya hanya bisa tersenyum simpul ketika Aci mencoba menutupi kegugupannya dengan tertawa. Sang pendayung perahu nampak tidak peduli. Ikatan batang pohon tersebut mengalir lambat di Sungai Amandit, mengantarkan kami bertiga masuk ke hutan yang rimbun.

Jangan bicarakan rafting kapal karet yang membakar adrenalin. Perjalanan dengan rakit bambu ini jauh lebih santai, sekaligus lebih was-was, pasalnya : tidak tersedia protokol keamanan. “Pak, apakah bapak dari dulu menaiki bambu seperti ini? Apakah tidak berbahaya?” tanya saya penasaran.

“Iya, saya sudah dua puluh tahun naik ini dan tidak pernah sekalipun rakit ini terbalik.” jawabnya datar.

Entah itu kelakar atau serius, tetapi yang pasti jawaban tersebut membuat saya merasa rileks. Karena bapak ini sudah biasa naik bambu, berarti segalanya akan tenang dan baik-baik saja kan? Salah.

Nyatanya beberapa menit kemudian, rakit bambu ini harus menerobos jeram Sungai Amandit di tengah pedalaman Kalimantan. Bambu yang hanya disatukan dengan sabut kelapa ini meluncur bak jet coaster yang zig-zag di lekak-lekuk bebatuan besar. Satu-satunya yang menghibur saya adalah sang pendayung nampak tenang, meskipun sesekali dia melakukan lompatan akrobatik.

Mengabaikan segala rasa khawatir, rasanya pun menyenangkan memang. Berkendara di paparan bambu menyusuri sungai pedalaman Kalimantan dengan pemandangan Pegunungan Meratus jelas pengalaman baru bagi saya. Tidak berapa lama, kami keluar dari kerimbunan dan masuk ke perairan di sebuah desa yang mana air sungai di sini jauh lebih tenang.

Saya mencoba duduk bersila sambil menggenggam kamera dan mengabadikan berbagai sudut penatapan menarik di sepanjang perjalanan. Sesekali ikatan bambu-bambu yang mengambang di bibir sungai itu terendam oleh riak-riak kecil. Celana saya basah, tentu saja, namun saya tidak peduli karena Loksado adalah desa yang terlalu indah untuk dilewatkan.