Karang-karang terjal berserak di perairannya. Pak Inyong mencekik pemicu kapal motor, disusul suara merepet, kemudian kapal berhenti dan terombang-ambing malas di sela-sela karang. Entah berapa puluh pulau-pulau karang tersebar mengurung kami tidak jauh dari perairan Waigeo. “Ini namanya Teluk Kabui,”
Maluku-Papua
Terdampar di Pulau Kosong
Empat atau lima butir kelapa diserak di atas pasir putih. Dengan sigap, Pak Odigenes mengambil sebilah golok dan mengupas kelapa itu satu per satu. Saya hanya mengamati sambil duduk ketika tangan-tangan legam itu dengan lihai membantai batok-batok kelapa yang masih
Santap Ikan Tangkap Sendiri
Pada mulanya saya kira mereka bercanda. Sepasang suami istri itu menunjukkan kepada diri saya bagaimana mereka menangkap ikan dengan mudah. Hanya dengan melempar jaring kecil, seekor ikan besar seukuran lengan dijerat dengan mudah, kemudian disimpan di kolom yang terletak di
Sunyi Senyap Raja Ampat
Ribuan tahun manusia mendiami perairan ini. Namun mereka nyaris tiada jejak selain gurat-gurat stempel telapak tangan pada permukaan dinding-dinding karang. Selebihnya adalah lautan liar dengan gugus-gugus kepulauan kecil yang mencuat dari permukaannya. Terbanyang beberapa ratus abad silam ketika manusia prasejarah
Perairan Bening Raja Ampat
Perih. Saya menatap lekat-lekat kedua lengan yang memerah legam. Siraman matahari bagaikan jerangan di atas hot plate. Dan ini baru hari kedua saya berada di Raja Ampat. Di cekungan teluk ini, kami menyandarkan perahu lapuk yang sedari pagi menemani perjalanan
Kelapa di Lautan Lepas
Odigenes mengambil sebutir kelapa ceking dari kolong perahu. Kemudian tersenyum dan meminta saya memperhatikan apa yang dia lakukan. Dengan cekatan kulit kelapa muda tersebut dikupasnya, menjadi semakin tipis dan semakin tipis hingga akhirnya salah satu sisinya terbuka. Sebuah lubang menganga
Nyanyian Minang di Saleo
Rebahlah saya di bangku malas yang terpasang di emperan pondok. Perjalanan yang berawal dari Jakarta, persinggahan semalam di Makassar dan Sorong, hingga pencapaian di Waisai, membawa saya ke tanah ini, Saleo namanya. Di sinilah saya akhirnya bisa duduk dan menarik
Menyusuri Jalan ke Saleo
Surga itu di sini. Katanya. Namun sejauh mata memandang hanya terlihat jalanan sempit dengan aspal yang masih baru namun telah dijalari tumbuhan liar. Inilah sisi lain Raja Ampat. Hanya Indra satu-satunya alasan persinggahan saya di Saleo. Berbekal informasi sedapatnya, saya
Suatu Senja di Pantai Jailolo
“Airnya hangat,” ucap Rissa sembari tertawa kecil, “Yang di tempat ibu-ibu mencuci sana airnya hangat. Kalau kakak tidak percaya coba saja ke sana.” Saya melangkah mendekat dan merendam telapak kaki di salah satu ceruk air yang menggenangi sela-sela bebatuan. Rissa
Hidup dari Hasil Laut Maluku
“Aduh, Ibu Susi… kok ikannya kecil-kecil begini,” keluh lelaki bertopi jingga itu menyebut-nyebut nama Menteri Perikanan seakan tidak tahu lagi siapa yang harus dia sebut. Separo penduduk kampung ini adalah nelayan. Mereka benar-benar hidup bersandar pada situasi perairan ini. Ketika









