Singgah di Siak Sri Indrapura bagaikan meneropong masa silam Semenanjung Malaka, kemudian tersedot ke dalamnya. Ada gurat-gurat sejarah yang ditatah di kota kecil ini, yang mengingatkan kita bahwa dulunya di tempat ini pernah ada sentra sebuah Kesultanan Melayu nan masif.
Sumatera
Becak Kurus dari Siak
“Boleh saya foto kan, Pak?” tanya saya yang hanya dijawab cengiran saja. Bapak tua itu hanyalah satu dari sekian lusin pengayuh becak yang bolak-balik dari muka Istana Kesultanan Siak ke pelabuhan di pinggir Sungai Siak. Berbeda dengan kompatriotnya di Jawa
Jungkir Balik di Sungai Siak
Belum pukul delapan pagi saya sudah duduk manis di dermaga Sungai Duku. Kapal motor yang akan membawa pejalan ngenes ini ke Siak Sri Indrapura akan segera bertolak dari ambang sungai Pekanbaru. Perjalanannya sendiri makan waktu dua jam, maka sewajarnya kunjungan
Jejak Perjuangan Bukittinggi
Memang Mohammad Hatta yang paling tenar. Namun Minang bukanlah melulu Hatta. Dari tatar Sumatera Barat ini telah lahir pemuda-pemuda terbaik bangsa, macam Sutan Syahrir, Muhammad Yamin, Tan Malaka, hingga Agus Salim. Gelombang cendekiawan Minang bukanlah cerita baru. Dan sejak berabad-abad,
Di Ambang Ngarai Sianok
Deru angin seakan bersiulan melewati celah-celah ngarai nan terjal. Bauran antara angin kencang dan gerimis sedari tadi memaksa saya berdiam diri di bawah lindungan atap bedeng seadanya di paparan jalan. Di bawah sana Ngarai Sianok nan masyhur terhampar luas, menjadi
Naik Turun Kota Bukittinggi
Adalah sebuah tantangan tersendiri mencari makan pada bulan puasa. Terlebih lagi untuk wilayah kental religi macam Sumatera Barat. Itulah alasan mengapa hari itu saya bangun pagi-pagi buta, mengikuti jadwal sahur, kemudian bergegas untuk menuju ke warung terdekat. Saya kembali ke
Kemuraman dan Keceriaan
Lonely Planet menyebut kebun binatang Bukittinggi sebagai tragedi. Saya tidak bisa menyalahkan mereka berkata demikian, memang ada kesan kuat bahwa kebun binatang satu-satunya di kota ini bertahan hidup dengan bermodalkan dana minimal. Hujan gerimis yang membasuh Ngarai Sianok sedari pagi
Berawal dari Fort de Kock
Kota Bukittinggi bermula dari sitadel ini. Untuk menegaskan klaim terhadap seisi wilayah Agam dan Pasaman, Hendrik Merkus de Kock membangun benteng ini di lapangan pucuk Bukit Jirek. Dari benteng kecil inilah pertahanan dan pengawasan masyarakat di sekitar Ngarai Sianok dikendalikan.
Tentang Muhammad Hatta
Sejatinya memahami Mohammad Hatta tidaklah sulit, karena beliau selalu konsisten. Hatta adalah sosok pemikir yang pendiam. Bak antitesis Soekarno, Hatta memimpin republik ini jauh dari gegap gempita politik dan kekuasaan. Alih-alih pidato yang meletup-letup ala kompatriotnya, Hatta lebih memilih membubuhkan
Di Atas Jembatan Limpapeh
Di bawahnya bukan sungai. Melainkan jalan raya. Tepatnya Jalan Ahmad Yani yang ramai tepat di episentrum kota Bukittinggi. Jembatan Limpapeh membentang sepanjang sembilan puluh meter, menghubungkan Fort De Kock dengan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Pada medio bulan puasa seperti









