Katakanlah pempek sebagai sebuah delikasi memang tidak salah, namun sejatinya lebihlah dia daripada yang tersematkan itu. Pempek hadir di Palembang bukan sekedar sebagai penganan, melainkan sebuah kebanggaan masyarakat. Pempek hidup sebagai simbol-simbol sosial bahkan identitas budaya, sungguh capaian tertinggi bagi
Sumatera
Memburu Jembatan Ampera
“Kamu tidak keberatan kalau kita tetap hunting malam ini?” tanya saya, sementara di luar sana gelegar guntur mendampingi hujan badai mengguyur Palembang. Di luar terkaan saya, Eva justru tertawa dan mengiyakan. Jadilah kami berdua berangkat berburu foto di tengah badai.
Menatap Lampung dari Atas
“Dari perbukitan sana, kita bisa melihat Bandar Lampung,” kata Hellen sambil memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, “Di atas situ ada bistro yang kamu mungkin suka. Kita nanti makan di sana saja.” Tidak berapa lama, mobil pun berhenti di sebuah rumah
Dari Vihara Untuk Lampung
“Kamu temenin saya dulu ya, kita mau serahkan ini ke pemuka-pemuka agama di Bandar Lampung,” kata Hellen kepada saya di mobilnya siang itu. Satu bundel dokumen nampak tergeletak di dashboard mobil hanya terlindung oleh windshield dari panasnya matahari. Hellen memiliki
Lamban Pesagi Khas Lampung
Satu-satunya kelambanan yang ada di rumah ini adalah namanya. Tidak ada yang lamban dari Lamban Pesagi, karena di dalam Bahasa Lampung, lamban mempunyai makna rumah. Sedangkan pesagi punya makna persegi. Singkatnya, Lamban Pesagi adalah istilah rumah persegi khas Lampung. Susurilah
Mampir di Museum Lampung
“Apa nama museum di Surakarta?” tanya bapak petugas museum sambil menerawang KTP saya, matanya memindai kolom demi kolom di kartu identitas yang cuma secuil itu seakan-akan penasaran kalau-kalau tulisannya secara ajaib bisa berubah. “Radya Pustaka,” jawab saya singkat sambil melempar
Berjumpa Bandar Lampung
Merapat ke dataran Bandar Lampung setelah perjalanan semalam di kereta api bagaikan dipukul dengan wajan penggorengan. Kesunyian semalam suntuk seketika juga buyar disambut dengan hiruk pikuk pagi metropolis nan semrawut. Belum selangkah saya keluar dari Stasiun Tanjung Karang, gerombolan tukang
Sepenggal Kisah Tsunami
Aceh adalah saudara yang nyaris jadi tetangga. Apalagi kalau bukan gara-gara masalah kesejahteraan. Di tempat ini pemberontakan besar-besaran pernah pecah, menghiasi halaman depan surat kabar selama bertahun-tahun. Lambat laun kesan sengketa pun menjejali benak setiap orang. Menjadikan Aceh identik dengan
Melihat Jeroan PLTD Apung
Dek kapal yang berkarat serasa membara di tengah panasnya siang Banda Aceh. Setiap anak tangga yang saya tapaki mengeluarkan suara berderak-derak memantik rasa was-was. Orang mengenal kapal tanker raksasa ini dengan sebutan PLTD Apung, bekas generator listrik milik PLN Banda
Raksasa di Tengah Kota
Monster ini bersandar tiga mil dari tempat di mana dia seharusnya berada, dermaga Ulee Lheu. Gelombang Lautan Hindia menghempasnya pada suatu pagi dekade silam. Peristiwa lima belas menit itu mengubah peranannya dari sebuah generator listrik bertenaga diesel di ambang lautan









