Menatap Lampung dari Atas

“Dari perbukitan sana, kita bisa melihat Bandar Lampung,” kata Hellen sambil memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, “Di atas situ ada bistro yang kamu mungkin suka. Kita nanti makan di sana saja.”

Tidak berapa lama, mobil pun berhenti di sebuah rumah makan tepat di pinggir jurang. Hellen dan saya turun dan memilih sebuah tempat duduk yang ada di salah satu sudut rumah makan. Dari atas sana kami bisa menyaksikan seantero kota Bandar Lampung dari atas. Di sebelah kanan terhampar Teluk Lampung sementara di sebelah kiri terdapat perbukitan yang mengapit kota.

“Ya. Kita di sini saja,” kata Hellen sambil tertawa terbahak-bahak. Pada mulanya kami berencana mencari Taman Kupu-Kupu Gita Persada. Namun karena ketidaktahuan kami berdua, serta minimnya informasi yang diperoleh, kami tidak berhasil menemukan lokasi taman tersebut.

Anggap saja pencarian akan kupu-kupu dibatalkan oleh segelas strawberry mojito.

Dari sini kota Bandar Lampung terpapar jelas, diapit perbukitan dan perairan. Bandar Lampung memang pada mulanya merupakan dua titik teritori bentukan Belanda, Tanjungkarang dan Telukbetung. Dua kota kecil ini kemudian digabungkan oleh pemerintah Republik Indonesia, membentuk metropolitan baru di ujung selatan Sumatera, dengan nama Bandar Lampung.

Saya tidak berlama-lama di Bandar Lampung. Baru pagi tadi saya tiba dengan kereta api dari Palembang. Malam ini saya sudah harus angkat kaki menuju Jakarta dengan bus. Meskipun hanya satu hari, saya akan mencoba mengeksplorasi sebanyak mungkin relik-relik yang terdapat di kota yang ever-bustling ini.

Perihal taman kupu-kupu, saya relakan itu menjadi destinasi untuk lain waktu.