Sungai Durian Jadi Supadio

Seperti biasa bagasi pertama selalu tidak bertuan. Saya hanya dapat duduk diam mengamati satu demi satu tas-tas besar dimuntahkan oleh carousel Pelabuhan Udara Internasional Supadio, menatap lengket menanti keluarnya bagasi kepunyaan saya.

Teruntuk sebuah provinsi yang terisolasi dari jalur darat yang pantas, keberadaan lintas udara adalah keniscayaan bagi Kalimantan Barat. Inilah pintu masuk kardinal provinsi Kalimantan Barat. Berawal dari landas pacu beralaskan tanah keras, Sei Durian, tumbuhlah ia menjadi sebuah bandar udara internasional modern bernama Supadio. Supadio sendiri diadopsi dari nama komandan pangkalan udara Sei Durian yang gugur dalam tugas.

Ini adalah kunjungan keempat saya di Pontianak, sebuah kota makmur sejahtera dengan gairah ekonomi nan kencang namun didukung infrastruktur seadanya. Tentunya masalah infrastruktur satu demi satu akan segera diatasi, salah satu contohnya adalah melalui pembangunan bandar udara baru ini.

Connie sudah menunggu saya. Ia adalah seorang sobat yang selama ini hanya akrab dengan saya di dunia maya, bertukar pesan melalui media sosial. Salah satu pekerjaan yang dia geluti adalah berjual beli kartu pos dengan tema Kalimantan Barat, jadi soal penjelajahan Pontianak dan kota-kota sekitarnya saya tidak ragu lagi untuk dipandunya.