Darah di Jembatan Porsea

Kedip lampu sepeda motor kemudian suara letusan senapan. Malam pun pecah.

Dua kapal karet yang mengangkut sejumlah orang bersandar di dalam kegelapan Danau Toba. Sementara dari jembatan, sekelompok londo berpatroli di atas sepeda motor melepaskan tembakan-tembakan yang disambut dengan serangan balasan. Peluru mencabik-cabik daging dan darah menggenang. Kolom-kolom Jembatan Porsea ini menjadi pilar pemisah antara hidup dan mati.

Entah bagaimana kisah pastinya. Namun adu tembak berdarah antara serdadu Belanda dengan serdadu Jepang menjadi sebuah kisah yang diabadikan tiang-tiang jembatan ini. Kisah tersebut saya simak sesaat setelah berfoto di ambang Jembatan Porsea. Meskipun genangan darah telah tiada, kenangan jembatan ini masih membekas dalam sejarah penjajahan nusantara.

“Sudahlah, kau turun saja. Berfoto di sana,” ucap Simon, marga Pakpahan, sedikit memaksa.

Berfotolah saya di hadap salah satu tiangnya, tanpa tahu maksud apa-apa. Barulah setelah berfoto, Simon bercerita tentang apa siapa yang pernah mewarnai sejarah Porsea. Saya menoleh ke belakang, jembatan truss itu berdiri membisu sementara Sungai Asahan mengalir deras di kakinya.