Adat Dayak Kalimantan Timur

Kayuhan sepeda saya akhiri di sebuah rumah betang yang ada di sudut Pulau Kumala. Suasana sekitar terkesan sepi lantaran tempat ini cukup jauh dari jembatan. Hanya terdapat dua orang, laki-laki dan perempuan tua, yang duduk di hadapan meja kayu yang di atasnya hanya terdapat sebuah buku tamu yang terbuka lebar.

Saya melongokkan kepala dan mengucapkan salam. Mereka tersenyum lebar seraya menyodorkan buku tamu. Saya hanya menyapu nama-nama yang terpampang di buku itu sesaat sebelum membubuhkan dua baris nama dan tanda tangan. Seperti yang saya duga, hampir seluruh pengunjung berasal dari daerah sekitar Kutai.

Inilah replika rumah betang di Pulau Kumala yang dimaktub sebagai Dayak Experience Center, pusat budaya etnis Dayak, dengan segala koleksi kerajinan budaya mereka. Meskipun etnis Dayak sendiri sebenarnya merupakan sebuah terminologi payung, dalam artian Dayak itu bukanlah satu suku melainkan ratusan suku berbeda-beda, fokus dari Dayak Experience Center ini memang menitikberatkan kepada suku-suku Dayak yang memang mendiami wilayah Kalimantan Timur, semisal Dayak Bahau, Dayak Modang, dan Dayak Ao’heng.

“Kerajinan tangan di sini bisa dibeli kok,” celetuk ibu yang berjaga-jaga itu ketika saya termangu menatap sebuah patung bertopeng hudoq yang berdiri di sudut ruangan. Pesona topeng Dayak ini benar-benar membuat setengah bagian paling ujung rumah betang ini terasa begitu mistis.

Selain patung-patung, di ruangan luas rumah betang yang pada bangunan aslinya dihuni oleh banyak keluarga ini juga terdapat banyak ornamen-ornamen Dayak lainnya, semisal patung burung rangkong yang digantung di palang langit-langit serta kerajinan rotan yang utamanya dibentuk seperti keranjang punggung.

Baru satu tahun lamanya Dayak Experience Center ini beroperasi, total terdapat tiga buah replika rumah adat dayak dari sub-etnis yang berbeda-beda pada kawasan ini, dilengkapi dengan sebuah bangunan pura di tengah-tengahnya. Tidak banyak yang mengetahui bahwa agama asli orang Dayak yang disebut dengan Kaharingan atau Hariangan, di Indonesia acapkali digolongkan sebagai salah satu aliran agama Hindu.

Saya melangkah keluar dari rumah betang yang lantainya berderak-derak ketika ditapaki. Gerimis mengguyur pelan di luar sana, namun saya mencoba untuk tidak peduli. Sepeda pun kembali saya kayuh menyisir pulau.