Dinginnya Pagi di Dieng!

Matahari pagi mengusap wajah, namun hangatnya nyaris tidak terasa. Saya mencoba melongok ke luar namun kaca jendela kamar diburamkan embun. Ada perkataan bahwa puncak dinginnya Dieng adalah pada pagi hari, sesaat sebelum matahari terbit. Dan muramnya angkasa pagi ini seakan-akan sebuah pembuktian akan kebenaran narasi tersebut.

Diaz membongkar tasnya untuk mencari sikat gigi. Sementara saya justru lebih sibuk memasang gir kamera yang semalaman dicas. Entah Eva dan Ika di kamar sebelah, sepertinya keduanya juga masih enggan keluar untuk berjibaku dengan udara dingin.

Bagi saya melewatkan pagi adalah dosa besar untuk seorang pejalan. Itulah mengapa saya agak tergesa-gesa untuk merapikan tempat tidur dan menikmati dinginnya pagi Dieng. Di bawah sana sekelompok orang bersarung nampak berdiang mengitari tumpuk-tumpukan kayu bakar yang menyala-nyala malas.

“Numpang nggih, Pak?” tanya saya kepada salah seorang bapak berkumis tebal yang kemudian tertawa mengiyakan sambil tetap berjongkok berselimut sarung.

Pagi ini Dieng begitu dingin namun begitu cantik. Cahaya matahari yang terpapas menembus sela-sela halimun tipis terbias ke segala arah, menerangi lapang rumput yang berkilauan lantaran basahnya embun.

Percik-percik api melompat-lompat dari kayu yang sudah setengah habis terbakar. Matahari di timur langit sudah lebih tinggi dari pucuk bukit. Namun udara dingin yang menaungi plato ini belum juga hilang. Saya terduduk sembari mendiangkan kedua telapak tangan di atas sisa-sisa kepul asap.

“Udara dingin seperti ini, sebaiknya kita jalan kaki saja,” ajak saya kepada Diaz, “Justru berjalan jauh sepertinya lebih menghangatkan tubuh daripada diam di sini.”