Menjadi Si Pemakan Segala

“Bakmi? Boleh. Nasi goreng juga. Sate ayamnya beli saja sepuluh kita buat berempat,” ucap saya sambil terus membolak-balik buklet menu, “Gurami goreng juga cocok. Sayurnya belum nih, mau kangkung dan buncis?”

Entah berapa banyak porsi makan yang kami berempat pesan di Bogor malam itu. Yang jelas saya sudah bertransformasi menjadi si pemakan segala lantaran seharian menghabiskan waktu untuk mengitari Bogor plus menyetir ke Sukabumi. Di tengah frustrasi menembus kemacetan jalan raya penghubung Bogor dan Sukabumi, rasa lapar seakan terabaikan.

Mungkin malam hari bukan saat yang tepat untuk balas dendam. Boleh jadi karena makan malam itu seharusnya tidak perlu terlampau banyak. Tidak sehat, katanya. Namun inilah Bogor, salah satu destinasi kuliner warga Jakarta yang tak setiap hari saya singgahi. Baiklah protokol-protokol kesehatan untuk sementara diabaikan.

Bogor memang menjelma menjadi salah satu destinasi kuliner favorit. Kemarin kami menyantap pizza kayu bakar di Warung Kita, kemudian dilanjutkan dengan soto mie di Pecinan, dan selusin makanan lainnya. Jangan heran apabila kami pun berniat untuk memungkas kunjungan di Bogor ini dengan makan!