Warning: curl_init() has been disabled for security reasons in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 95

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 97

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 98

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 100

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 103

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 106

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 333

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 334

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 363

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 370

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 375

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 376

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 377

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 379

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 382

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 150

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 151

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 159

Warning: curl_exec() has been disabled for security reasons in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 162

Warning: curl_errno() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 167

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 181

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 182
Keanggunan Fort Amsterdam – tunawisma

Keanggunan Fort Amsterdam

Tanpa atap merah yang menjulang, mungkin saya sudah menduga bangunan ini kandang walet. Benteng Amsterdam menghadap langsung ke laut lepas, membentengi jazirah Leihitu dari invasi luar.

Bukan Belanda. Adalah pelaut Portugis sepupu Ferdinand Magellan, Francisco Serrao, yang membangun tempat ini. Enam ratus tahun lalu, Serrao dan pasukan Portugis membangun satu gudang penyimpanan di tempat ini. Barulah usai kehadiran Belanda seratus tahun kemudian, gubernur Jaan Ottens mengubah struktur dan fungsi loji rempah ini menjadi sebuah sitadel pertahanan.

Di lapang depan bangunan ini terdapat taman yang cantik. Seorang anak remaja nampak sibuk menyapu halaman ketika Norris dan saya melangkah masuk ke kompleks benteng. Anak itu tersenyum simpul dan mempersilakan kami masuk setelah Norris menitipkan selembar “uang permisi”.

Tidak selazimnya sebuah pos pertahanan, kerangka Benteng Amsterdam berstruktur mirip rumah petak sehingga Belanda menjulukinya Blok Huis. Tidak sepenuhnya salah, karena benteng tersebut memang difungsikan sebagai rumah bagi prajurit. Lantai pertama adalah kamar tidur para serdadu, lantai kedua adalah ruang rapat, dan lantai ketiga adalah ruang pandang. Belakangan benteng ini bahkan digunakan oleh botanis kawakan Jerman, Georg Eberhard Rumphius, sebagai laboratorium pribadinya.

Belanda meninggalkan benteng ini pada penghujung abad ke-19, teronggok begitu saja menghadap ke Selat Manipa. Barulah sembilan puluh tahun kemudian, pemerintah Republik Indonesia melirik kembali sitadel bersejarah ini. Pada saat itu kondisi bangunan ini sudah setengah runtuh, bahkan sebuah pohon beringin besar tumbuh di tengah-tengahnya. Berbekal sketsa kuno Francois Valentijn, Beschreiving van Amboinan, pemerintah merestorasi Fort Amsterdam, mengembalikan wujudnya yang semula.

Berbeda dengan Fort Rotterdam atau Fort Vrederburg yang senantiasa hidup dalam gegap gempita, Fort Amsterdam menjalani hari-harinya di Leihitu dalam kesunyian. Meskipun usianya jauh lebih tua, benteng seakan terlupakan di tengah keanggunan fisiknya.