Dari Atas Jembatan Ampera

Banyak yang tidak mengingat, Jembatan Ampera diresmikan oleh Jenderal Ahmad Yani semalam sebelum beliau mangkat. Sekembalinya dari Palembang, beliau dieksekusi oleh sekelompok milisi yang terlibat dalam gerakan revolusi 1965 yang mana kemudian juga menandai sebuah pergantian rezim besar-besaran di negeri ini.

Senja hari, Khairi dan saya berjalan kaki menyusuri trotoar jembatan yang dahulu dinamai Jembatan Soekarno ini. Seiring dengan runtuhnya Orde Lama dan usaha memupus reputasi Soekarno, nama jembatan ini pun lantas diubah menjadi Jembatan Ampera, Amanat Penderitaan Rakyat.

Sejatinya, Jembatan Ampera sangat jauh dari kesan derita. Jembatan ini begitu anggun dengan pendar-pendar cahayanya yang berlatar langit kelam seakan menjadi saksi pembangunan Kota Palembang yang terus menerus dikebut siang malam. Dari atas jembatan ini kita dapat menyaksikan kawasan ilir Sungai Musi yang lebih dahulu maju dan kawasan ulu yang sedang berdentum mengejar ketertinggalan.

Pada masanya, medio 1960-an, Jembatan Ampera pernah menjadi jembatan terpanjang Asia Tenggara. Bentang pancangnya yang mencapai 1.117 meter mengubah wajah Kota Palembang dalam sekejap sekaligus memapas keterisolasian wilayah ulu.

“Hati-hati ya kalau lewat di taman bawah jembatan,” terngiang-ngiang ucapan sopir taksi tadi. Saya tahu. Pesan yang sama pernah saya dapatkan ketika berkunjung ke Palembang satu dekade silam. Singkat cerita, kawasan di bawah Jembatan Ampera ini memang dikenal sebagai habitat nongkrong para preman dan anak-anak muda pengangguran. Sayang sekali apabila jembatan ini seindah ini punya dua wajah, di satu sisi sebagai ikon cantik Palembang yang berpendar di waktu malam. Namun di sisi lain, keberadaannya seakan memayungi kehidupan para preman di kolong jembatan.

Saya duduk di salah satu bangku yang ada di tepian Jembatan Ampera. Di bawah sana terhampar pemandangan Sungai Musi yang sibuk dan temaram langit senja yang perlahan-lahan mulai kehilangan cahayanya, tergantikan oleh kerlap-kerlip lampu kota.

Berbeda dengan lima dekade silam, Jembatan Ampera nampak sudah tidak sanggup lagi menampung arus lalu lintas Kota Palembang yang semakin lama semakin padat. Untuk itulah dibangun Jembatan Musi II di seberang barat kota ini, dua jembatan yang berdiri untuk meringankan beban Jembatan Ampera. Belum lagi rencana pemerintah kota untuk menambahkan Jembatan Musi III yang berwujud terowongan bawah sungai, Jembatan Musi IV di seberang timur, dan tentu saja jembatan untuk LRT pada tahun 2019.

Jembatan Ampera memang bukan lagi satu-satunya urat nadi yang menghubungkan wilayah ulu dan ilir Kota Palembang, namun statusnya dan historisnya sebagai pengikat kota ini masih begitu integral. Dan pada saat hari semakin malam ia semakin bercahaya.