Kunjungan Istimewa ke Lahat

“Jangan sekali-kali berkeliaran setelah matahari terbenam,” ucap laki-laki uzur itu seraya mendekatkan bibirnya ke gelas kopi. Gurat-gurat di pipinya terlihat begitu jelas di bawah redupnya teras hotel sore itu. Ini pesan yang sama persis keempat kalinya yang saya terima hari ini. Tentu saja dari empat orang yang berbeda.

Lahat adalah persinggahan satu hari di dalam perlintasan Sumatera Selatan kali ini. Tidak terselip harapan dan boleh dibilang tanpa ada rencana persiapan untuk melihat apapun di kabupaten ini. Tetapi dari hasil pencarian singkat, saya menemukan beberapa destinasi yang barangkali akan saya kunjungi selama persinggahan saya di wilayah yang terkenal dengan industri kopinya dan arca megalitikumnya.

Kunjungan ke Lahat boleh dibilang agak istimewa. Lantaran saya sengaja berhenti di kota ini gara-gara seorang sahabat saya, Soultani, berasal dari daerah ini. Selebihnya saya sendiri tidak tahu apa yang berniat saya cari di dalam penjelajahan ini selain menyimak Bukit Serelo dan beberapa arca peninggalan purbakala.

Ibukota dari Kabupaten Lahat sendiri sejatinya tumbuh dengan cukup pesat. Dentum perekonomian daerah ini begitu terasa dengan ramainya lalu lintas dan gedung-gedung yang baru dibangun pada kanan kiri jalan. Tetapi empat peringatan dari orang-orang yang saya temui tadi terus terang membuat saya berpikir terpaksa dua kali menjelajah di malam hari. Singkatnya, ada tengara bahwa angka kriminalitas di daerah ini masih sangat tinggi.

Lahat sendiri bukannya tanpa wisatawan. Kabupaten ini tenar sebagai kandang bagi ribuan arca megalitikum yang menarik bagi wisatawan yang mempunyai minat khusus, utamanya dari seantero Sumatera Selatan. Hanya saja karena waktu kunjungan kami terlampau singkat, tidak banyak yang dapat kami singgahi di sana.

Siang itu kami makan di Rumah Makan Singgah Kudai yang terletak tidak jauh dari stasiun. Delikasinya cukup unik sebab dihidangkan secara ‘rijstaffel’ seperti rumah makan padang namun dengan hidangan ala Sumatera Selatan, semisalnya pindang ruas. Di sini pula saya menyempatkan diri untuk membeli lempuk durian dan kopi semendo yang kebetulan dipajang di etalase.

Lahat bukanlah daerah miskin. Di sini listrik mengalami surplus dan perekonomian berputar dengan kencang, hanya saja faktor keamanan masih sering menjadi keragu-raguan bagi para pelintas untuk bersinggah di kota ini. Walaupun demikian, kami melewatkan kunjungan di Lahat dalam kondisi aman-aman saja.