Jatuh Bangun Istana Pagaruyung

Belanda pernah pusing dibuatnya. Bagaimana tidak, sengketa antara kaum paderi dan kaum adat sudah mencapai titik nadir pada awal abad ke-19 membuat Tanah Minang begitu liar, mencekam, dan susah dikendalikan. Puncaknya adalah ketika pada tahun 1804, sebuah kerusuhan besar yang melibatkan kaum paderi meluluh lantahkan Istano Basa Pagaruyung yang menjadi basis kaum adat. Istana bersejarah ini terbakar hebat dalam sebuah sengketa politis yang berlangsung selama beberapa dekade.

Perbaikan dilakukan besar-besaran dengan membangun ulang bangunan megah ini. Namun pada tahun 1966, istana ini mengalami kebakaran hebat dan musnah. Barulah pada tahun 1976, pemerintah membangun kembali istana ini.

Dua kejadian nampaknya belum cukup membuat siklus ini berhenti, seakan-akan Istano Basa Pagaruyung memang ditakdirkan untuk tidak pernah jauh dari api. Sebuah sambaran petir pada tahun 2007 membakar habis bangunan ini dan seluruh isinya, termasuk pusaka kerajaan dan kain-kain bersejarah. Konon hanya lima belas persen pusaka yang terselamatkan dalam peristiwa ini.

Tidak peduli di zaman siapa, entah karena lokasinya atau memang karena tidak pernah mempertimbangkan mitigasi bencana, istana ini berulang kali hancur terbakar. Tiga kali istana ini hancur tidak bersisa, sebanyak itu pulalah istana ini bangkit kembali.