Warning: curl_init() has been disabled for security reasons in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 95

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 97

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 98

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 100

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 103

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 106

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 333

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 334

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 363

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 370

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 375

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 376

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 377

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 379

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 382

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 150

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 151

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 159

Warning: curl_exec() has been disabled for security reasons in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 162

Warning: curl_errno() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 167

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 181

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 182
Kebun Teh Warisan Bosscha – tunawisma

Kebun Teh Warisan Bosscha

Percayalah. Tidak pernah ada satu pun pengusaha perkebunan teh di Priangan yang lebih tenar daripada Bosscha. Bukan semata lantaran kepiawaiannya mengelola kebun teh Malabar, namun juga kemanusiaan dan kedermawanannya. Sikapnya yang berlainan dengan kebanyakan juragan tanah Belanda menjadikan sosok Bosscha begitu dicintai oleh buruh-buruh perkebunan teh.

Karel Albert Rudolf Bosscha tumbuh dari keluarga terpandang dan terpelajar. Ayahnya adalah profesor fisika Politeknik Delft, tapi Bosscha kecil yang keras kepala pernah gagal mendapatkan gelar sarjana lantaran bersitegang dengan dosen pembimbingnya.

Dalam usianya yang belum seperempat abad, Bosscha muda sudah memberanikan diri berlayar ke Hindia Belanda untuk membantu pamannya mengurus kebun Malabar. Adalah Edward Julius Kerkhoven, paman Bosscha, yang membuka luasan kebun teh Malabar pada penghujung abad ke-19 di Tatar Priangan. Tidak hanya di Malabar namun juga mencapai Talun dan Ciwidey.

Enam tahun berselang, Kerkhoven menyerahkan kepengurusan kebun kepada Bosscha. Pekerja yang rata-rata didatangkan dari Jawa Tengah diberinya tempat tinggal dan pendidikan. Jangan heran apabila hingga kini banyak buruh di kebun teh Malabar yang menghuni bedang-bedeng yang usianya lebih tua daripada usia mereka.

Kepemimpinan Bosscha inilah yang mengubah wajah Malabar. Luasan perkebunan teh yang rimbun dan produktif sedikit banyak dilandasi oleh keberanian sang juragan dalam mendobrak patron dan bereksperimen. Bibit-bibit teh beraneka ragam dibawa dari berbagai belahan dunia untuk diujicobakan di tanah Malabar.

Pada awal abad lalu, Bosscha membangun sebuah pabrik pengolahan teh di Pangalengan. Pabrik tersebut sanggup memproduksi lebih dari tiga ribu ton teh kering per tahun dengan kualitas ekspor. Kesuksesan Bosscha memimpin Malabar membuatnya digelari Raja Teh Priangan.

Kini di kaki Malabar terbentang luasan kebun teh yang masih produktif hingga hari ini. Sementara Bosscha sendiri tetap dikenang dan diabadikan sebagai nama observatorium di kota Bandung.