Sua Perdana Kota Gorontalo

Lonely Planet pernah setengah meledeknya sebagai desa yang meluap. Sebenarnya bukan ledekan karena Gorontalo memang setengah bernuansa desa, di mana segenap orang seakan-akan saling mengenal dan masyarakatnya sangat bersahabat. Demikianlah. Gorontalo kini bukan lagi desa raksasa, karena ia sudah tumbuh dengan pesat ke segala penjuru, melebar dengan liar.

Lebih dari satu dekade Gorontalo berdiri sendiri sebagai ibukota dari sebuah provinsi dengan nama sama semenjak dimekarkan dari Sulawesi Utara. Meskipun demikian, ia masih tenggelam di jebak hiruk pikuk nusantara. Nama Gorontalo bukan sesuatu yang lazim dipaparkan oleh media massa nasional.

Berjalan kaki mengitari kota Gorontalo di tengah hari yang panas menjadi sebuah petualangan tersendiri lantaran keadaan trotoar yang nyaris non-eksisten. Bongkah-bongkah kerakal besar terlihat berserak di bekas-bekas trotoar yang sedang digali, sementara debu-debu pasir berterbangan ke angkasa.

Pilihan utama barangkali memang bukan saja berjalan kaki. Lazimnya masyarakat Gorontalo berkeliling di atas bentor, becak bermotor. Perjalanan dengan bentor selain efisien, murah, juga mampu menjangkau sudut-sudut kota dengan kondisi jalan yang masih acak adut.

Namun bukan berarti Gorontalo tidak mengendus aroma metropolitan. Pusat-pusat perbelanjaan megah lambat laun turut menghiasi sudut-sudut kota ini, mengikuti jejak kota-kota besar di Indonesia. Ekonomi kota kecil ini tidak hanya berdenyut, namun berdentum seiring aktivitas masyarakatnya.

Bagi saya perjumpaan pertama dengan kota Gorontalo cukup mudah. Selain karena Fani yang menyesaki kotak pesan saya dengan ratusan panduan, juga karena Desy yang menawarkan rumahnya untuk saya inapi selama dua malam. Selebihnya, biarlah insting pejalan saya yang menentukan arah langkah ini.