Kota Prabumulih, Kota Minyak

Tidak ada apa-apa di sini. Celetukan teman saya dari Palembang tentang Prabumulih itu membuat saya urung niat untuk berlama-lama di kota ini. Bolehlah sebatas bersinggah, namun tiadalah guna berlama-lama karena di sini hanya ada minyak, demikian pesannya.

Prabumulih sejatinya bukanlah merupakan ‘kota baru’. Manusia telah mendiami tanah ini semenjak tujuh abad yang lalu dalam sebuah naung desa yang bernama Lubuk Bernai. Dikisahkan terdapat empat orang tetua yang mendirikan dusun masing-masing di tempat ini yang seluruhnya menghadap ke suatu tanah tinggi yang disebut Menghabung Uleh, alias tanah meninggi. Lambat laun desa ini dikenal dengan nama Pehabung Uleh yang mana empat kampung di sekitarnya berpegang pada aturan adat Simbur Cahaya.

Entah bagaimana nama Pehabung Uleh berubah menjadi Perabung Nguleh pada masa kolonialisme Belanda. Di bawah Onder Afdeeling Ogan Ulu, perkampungan pada kawasan ini tumbuh dengan sangat pesat menjadi desa yang ramai. Kedatangan Jepang ke nusantara kembali mengubah nama desa menjadi Peraboeh Moelih dengan pusat pemerintahan di Tanjung Rambang.

Era Republik lagi-lagi mengubah identitasnya. Nama Prabumulih pun disematkan, diadaptasi langsung dari Peraboeh Moelih. Hingga akhirnya pada tahun 2001, wilayah ini berkesempatan menjadi daerah otonomi baru berstatus kota. Kota Prabumulih berperan sebagai penopang Kota Palembang di Sumatera Selatan. Peranannya sebagai kota nomor tiga di provinsi ini sontak menggenjot pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk daerah ini, di belakang Palembang dan Lubuklinggau.

Prabumulih kini hidup dari minyak. Kantor-kantor Pertamina nampak tersebar di setiap sudut kota, melengkapi status kota ini sebagai tujuan urbanisasi orang-orang dari seantero Sumatera Selatan.

“Kalau ini lebih kelihatan kotanya ya daripada Pagaralam,” celetuk Khairi ketika kami singgah sejenak di Prabumulih, “Setidaknya di sini sudah terlihat banyak pertokoan dan keramaian pusat kotanya begitu terasa.”

Khairi benar. Kota Prabumulih memang terasa agak berbeda dengan Kota Pagaralam yang senyap, tentunya ini terkait dengan posisinya sebagai penyedia penghasilan utama dari industri minyak bumi serta gas bumi. Usut punya usut, selain bergantung pada bahan tambang, Prabumulih punya industri lain yang membuatnya banyak dikenal di Sumatera Selatan yaitu perkebunan nanas. Ya, nanas.