Limboto, Senyum di Atas Krisis

Gegap gempita suara musik bertalu-talu di tepinya bersamaan dengan para penari berkostum warna-warni yang berlenggak-lenggok di atas panggung, sementara tahun demi tahun Danau Limboto terus terbenam dalam urukan sedimen. Festival Danau Limboto adalah pagelaran tahunan yang menjadi salah satu magnet pariwisata Provinsi Gorontalo, namun para pengunjung terkesan abai dengan krisis yang kini mengancam Danau Limboto.

Danau ikonik yang terletak di sisi barat Kota Gorontalo ini memang mengalami pendangkalan yang parah ditambah dengan tumbuhan eceng gondok liar yang sesekali muncul di permukaannya. Pemerintah sudah berusaha untuk mengatasi masalah ini namun usaha tersebut masih terkesan sporadis dan tidak berkelanjutan.

Siang itu saya berdiri di salah satu tepiannya yang senyap, hanya terlihat dua anak kecil berenang di air danau yang dangkal tepat di sebelah perahu kayu. Hari itu adalah bulan September yang mana seharusnya menjadi momentum bagi saya untuk menyaksikan burung-burung eksotis bermigrasi di atas hamparan danau ini. Tidak heran apabila ada sekitar selusin wisatawan asing yang membawa kamera besar-besar di sekitar danau, dengan senyum mengembang mereka berharap bisa mengabadikan momen-momen penting migrasi antar-benua ini.

“Biasanya bulan September akhir seperti ini,” ucap bapak penjaga museum sembari berdiskusi dengan saya siang hari itu, “Ada burung gagang bayam, trinil kecil, hingga cerek pasir besar. Tetapi pada tahun ini sepertinya migrasi mereka agak terlambat, kamu tunggu saja di sini karena mereka pasti akan melintas.”