Perjalanan nan Penuh Makanan

Mobil kaleng rombeng ini dihempaskan ke tepian jalan provinsi kemudian direm mendadak sehingga nyaris semua penumpangnya terlempar ke depan. Kakek tua yang duduk di kursi dengan dengan santainya bilang ke kami semua, “Saya minta Pak Sopir berhenti dulu soalnya di sini banyak makanan, saya mau beli oleh-oleh.”

Penumpang lain yang kebanyakan adalah perempuan itu menggerutu. Sementara saya juga sangat tertarik untuk ikut turun karena inilah kesempatan saya melihat-lihat makanan-makanan yang dijual sekaligus meluruskan kaki.

Tidak seperti dugaan saya, kios-kios tepi jalan di sepanjang jalan poros Banda Aceh ke Medan ini tidak hanya menjual makanan-makanan ringan langsung makan, tetapi juga barang-barang yang seharusnya dijual di pasar bukan di pinggir jalan, sebut saja ikan mentah hingga ketela. Tidak disadari, saya pun jadi ikut sibuk menggeledah-geledah seisi lapak untuk mencari-cari makanan khas Aceh.

Salah satu yang memikat perhatian saya adalah kue keukarah, yaitu jajanan khas Aceh yang terbuat dari tepung dan santan berbentuk mirip lembing. Kue ini berserabut mirip seperti jaring-jaring atau sarang burung. Ketika saya mencoba mencicipi satu, rasanya renyah dan manis, sekali gigitan kuenya rapuh di rongga mulut.

Mungkin sudah lima belas menit saya terkekeh-kekeh bersama si kakek yang duduk di kursi depan tadi, membicarakan mana saja kue yang harus dibeli untuk oleh-oleh anaknya. Sementara di mobil Pak Sopir nampaknya sudah mulai gusar dan meneriaki kami berdua untuk segera masuk ke dalam mobil, saya pun menarik tangan si kakek untuk kembali ke kendaraan rombeng itu sembari membawa dua keresek besar berisi makanan yang saya sendiri tidak tahu apa itu.

Lantaran motivasi saya hanyalah mencicipi rasa setiap varian kue, maka saya pun membagi-bagikan seisi keresek tadi kepada seluruh penumpang di dalam kendaraan. Jadilah perjalanan kami yang berlanjut dari Pidie Jaya menuju Takengon ibarat sebuah pesta kebun yang meriah penuh dengan makanan.