Malam Beku di Sisi Semeru

“Kami masak soto ya mas,” tanya salah satu porter yang menemani perjalanan kami malam itu terkait menu makan malam kami. Saya hanya bisa mengiyakan karena dalam situasi seperti ini makanan apapun harus disyukuri.

Berada di bawah naungan pondok kayu yang penuh sesak, kami menyantap soto ayam hangat dalam kegelapan. Satu satunya sumber cahaya yang dapat kami gunakan adalah headlamp yang membuat kegiatan makan soto menjadi lebih mirip menambang batu bara.

Saya menuntaskan sepiring nasi soto dan menata tempat tidur. Sementara Bayu muntah-muntah di ujung ruangan, mungkin karena makan Pop Mie belum bayar.

Kencangnya hujan yang membasuh ketinggian Semeru sepanjang malam membuat kami tidak berkesempatan untuk membangun tenda, alternatif yang dapat kami lakukan adalah bermalam di pondok ini. Sebelas orang. Semuanya tidur berbaris seperti jajaran ikan asin.

Tanpa banyak pilihan, kami pun menyapu lantai kayu yang posisinya agak tinggi dari tanah dan kemudian menjabarkan matras. Seluruh anggota tim menata baris kantong tidur masing-masing berjajar. Asal tahu saja, udara pagi di Ranu Kumbolo bisa menembus batas bawah minus lima derajat Celsius.

Bayu tidur paling awal. Mungkin karena kondisi fisiknya sedang kurang bagus sehingga butuh istirahat cepat. Kami semua menyusul tidur kecuali Aulia yang nampaknya punya masalah dengan daya tidurnya sehingga malah sibuk sendiri bermain iPad.

Lampu kamar dimatikan. Hanya ada satu buah senter yang sengaja dinyalakan untuk memberikan penerangan seadanya di pondok kecil itu. Beberapa orang terdengar keluar masuk, mungkin para porter. Sementara di luar sana hujan terdengar semakin lebat saja.