Nuansa Damai Rumah Allah

Pak Imran melantai beralas marbel yang dingin. Sekilas kerut-kerut di dahinya berkurang ketika dinding masjid meneduhi kami berdua dari terik matahari.

“Baiturrahman,” ucapnya parau, “Berarti Rumah milik Yang Maha Pengasih.”

Bukan sekedar rumah, Baiturrahman adalah rumah Tuhan. Rumah yang masih dibiarkan-Nya tegar tegak di tengah hantaman tsunami dekade silam. Arsitektur bergaya klasikal Eropa membaur dengan dekorasi Timur Tengah membuat masjid ini terlihat gagah di jantung Banda Aceh. Megah dan membisu.

Mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman adalah salah satu impian sejak lama. Kedatangan di Banda Aceh tidak saya sia-siakan untuk mengunjung masjid legendaris ini. Dibangun oleh Sultan Iskandar Muda lima abad silam, masjid ini pernah hancur dalam perang besar melawan tentara kolonial. Namun pemerintah Hindia Belanda membangun ulang masjid ini setelah berunding dengan para pemuka adat.

Pak Imran menjelaskan bahwa sebelum era kemerdekaan, Masjid Raya Baiturrahman hanya mempunyai satu kubah. Kubah-kubah berikutnya ditambahkan oleh pemerintah republik, selama Orde Lama maupun Orde Baru. Kini di Orde Reformasi, Masjid Raya Baiturrahman direncanakan akan kembali mengalami sebuah restorasi masif dengan mengikuti pola Masjid Nabawi di Madinah.

Saya merasakan sebuah nuansa damai di tempat ini. Meskipun sejarah Masjid Raya Baiturrahman tidak selalu berkonotasi ketenangan. Masjid ini pernah menjadi saksi semangat juang dan air mata rakyat Aceh selama berabad-abad.