Masjid Ternate di Atas Laut

Perlu tujuh tahun untuk membangun masjid nan ikonik yang mengambang di atas laut ini. Demikianlah Masjid Al-Munawaroh menjadi totem untuk Pulau Ternate, bagi para pelintas garis pantainya maupun para pesinggah yang merapat ke tanah ini. Pada malam hari, kedua menara masjid ini ketara berpendar apik di bawah muram angkasa, menyambut tamu-tamu yang memasuki perairan dari Timur.

Semenjak diresmikan, Masjid Al-Munawaroh menjadi landmark bagi Kota Ternate.

Dengan luasan mencapai enam hektar dan kapasitas menampung lima belas ribu jemaah, pembangunan masjid ini menelan biaya 48 milyar rupiah yang keseluruhannya ditanggung oleh APBD. Selain bangunan induk, masjid ini mempunyai empat tiang menara setinggi 44 meter dan dua di antaranya berdiri di atas laut dengan dinding pualam yang batunya didatangkan dari Timur Tengah.

Di balik segala gemerlap bangunan dan anggaran fantastis, Masjid Raya Ternate ini sebenarnya tidak bebas dari permasalahan teknis. Beberapa tahun silam, hembus angin laut yang kencang membuat struktur menara masjid ini mengalami pelapukan dan miring ke sebelah kanan hingga dua derajat. Hal tersebut sempat dikhawatirkan membahayakan orang-orang yang berada di sekitarnya. Sejauh yang saya tahu, masalah tersebut sudah berhasil diatasi dengan renovasi beberapa bagian menara.

“Sekarang saya mau sholat dahulu di dalam,” ucap Awhy seraya memarkirkan sepeda motornya di tepi pelataran masjid yang begitu ramai malam itu, “Kamu jagain dulu tas saya ya.”

Saya mengangguk. Ini adalah kesempatan saya untuk mengambil banyak gambar dari bangunan cantik ini dari dekat yang ukir-ukirannya tercetak apik di bawah pendar cahaya lampunya. Sementara saya berusaha sedikit mengabaikan para jemaah yang lalu lalang memasuki pelataran parkirnya.

Ternate kota yang cantik. Kota yang mencakup satu pulau dan berpenduduk enam ratus ribu jiwa ini selama berabad-abad menguasai pulau-pulau di arkipelago Maluku. Barulah pada dekade lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk pertama kalinya mengalihkan tongkat komando ke Pulau Halmahera. Sebanyak 96% warga Ternate beragama Islam dan keberadaan masjid ini mendapuk status Ternate sebagai sentra agama tersebut.

“Ayo, Wan!” seru Awhy membuyarkan fokus saya yang sedang asyik memotret, “Kita lanjut lagi jalan ke pinggir pantai. Di sana ada jagung bakar dan banyak makanan ringan yang bisa kita santap malam ini.”

Saya pun mengikutinya, beranjak dari masjid anggun ini.