Kehangatan Pagi di Palu

Hangatnya pagi adalah preambule akan panasnya siang. Udara gerah menaungi sempadan Pantai Talise, mencucurkan peluh dari dahi kendatipun hari masih terlampau dini. Di sana pemandangan lautan tenang terhampar luas di sebalik Jembatan Palu yang kuning terang melengkung bak logo McDonald’s yang digeprek gepeng.

Sudah sejak beberapa tahun terakhir, Palu berbenah. Pantai yang dulunya kumuh, kini dipercantik dengan taman dan jalan setapak yang memangkas tengah-tengahnya. Jalan raya beraspal mulus terbentang mengikuti lekuk-lekuk kontur pantainya menjadi boulevard bagi Kota Tadulako ini.

Pagi itu saya berjalan kaki seorang diri menyusuri taman pantai yang cantik ini. Di setiap-setiap siku jalan, saya selalu menyempatkan diri untuk berhenti dan mengambil gambar. Matahari yang belum tinggi menyinari dari sudut cantik membekaskan bayang nan apik di permukaan laut.

“Ya beginilah Palu, panas,” gerutu Pak Udin sambil mengusap peluh di dahinya, “Mungkin karena Palu ini dekat sekali dengan garis khatulistiwa ya?”

Boleh jadi. Palu memang terletak tidak jauh dari lini ekuator yang memenggal leher ciut Sulawesi menjadi dua bagian yang ukurannya tidak seimbang. Kota Palu sendiri mempunyai laut tenang karena teluknya tersudut di pipih cekungan yang melesak dalam ke daratan, menyisakan daratan runcing di Donggala.

Bagi kebanyakan orang, Palu memang jarang dilirik. Pertama, bukan kota wisata. Kedua, lantaran situasi keamanan Sulawesi Tengah yang selama ini senantiasa diberitakan berlebihan oleh media massa. Walaupun demikian, Palu sempat merasakan momentum meriahnya sewaktu menyambut gerhana matahari beberapa waktu silam.

“Saya hampir tidak pernah melihat turis main ke sini,” sambung Pak Udin melihat saya yang diam saja dari tadi, “Mencari apa kamu di tempat ini?”

Memang tiada apapun yang saya cari di kota ini. Kota ini hanya satu persinggahan dari sebuah perjalanan yang lebih akbar, menembus dataran Poso yang penuh konflik.